Minggu, 31 Mei 2026

Abraham Kembali Diuji dan Calonnya Ishak - Kejadian 22

 

Kejadian 22


Alkitab kita dalam perikop ini sangat jelas menyampaikan bahwa orang-orang pilihan-Nya Tuhan, tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Ujian menjadi bukti apakah kita adalah orang-orang yang setia, atau tidak, apakah kita orang yang tetap teguh berjalan atau tidak. Ujian menjadi bukti tanda kelulusan bahwa kita adalah orang-orang yang setia, orang yang teguh imannya.

Tentu ujian Abraham kali ini bukanlah ujian yang mudah, tapi ketika Abraham sudah lulus berkali-kali dari ujian Allah, ini menjadi ujian puncak bagi Abraham. ‘Setelah semuanya itu, Allah mencoba Abraham’ (Kej.22:1).

Bagaimana mungkin anak yang sudah dijanjikan puluhan tahun, harus diserahkan kembali kepada Allah? Tapi Abraham punya mata yang tajam, telinga yang mau mendengar dan taat sepenuhnya apa yang Tuhan katakan, sehingga tidak heran sekalipun itu diminta untuk melakukan di luar nalarnya. Ketaatan sepenuhnya menjadi cara satu-satunya dia bisa melewati semua ujian yang ada.

Telinga yang peka dengan Tuhan akan selalu mampu mendengar apa yang Tuhan katakan setiap harinya bagi kita. Abraham-pun di ayat pertama tertulis, Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan”.

Ketaatan sepenuhnya dan persiapan yang matang untuk melaksanakan perintah Tuhan, Abraham tunjukkan dengan tidak menunda-nunda apa yang Tuhan perintahkan saat itu. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya.

Uniknya Abraham sampai bawa kayu bakar. Padahal disana juga pasti ada kayu atau ranting-ranting yang bisa jadi bahan kayu bakar, tapi tidak. Abraham bawa sendiri, bahkan ketika sudah sampai di tempat yang akan dituju, setelah menempuh perjalanan 3 hari dari Barsyeba ke gunung yang Tuhan tunjukkan, Abraham meminta Ishak untuk pikul kayu bakar itu, sampai ke puncak gunung.

Itu bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Tapi dengan ketaatan penuh, Abraham berani dan mampu bayar harga untuk perintah Tuhan itu.

Bahkan saat sampai hendak menghunuskan pedang-pun ke Ishak, Tuhan akhirnya melihat bagaimana kesetiaannya Abraham yang mau dan rela akan mempersembahkan anaknya sendiri. Menghentikannya dan bersumpah demi diri Allah sendiri. Berkat melimpah-limpah dan keturunannya akan banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut. Bahkan keturunannya akan menduduki kota-kota musuhnya. Kemudian oleh keturunannya berkat itu mengalir ke bangsa-bangsa, karena mendengar firman Tuhan  (Kej 22:17-18).

 Akhirnya dengan mata yang tajam, Abraham mampu melihat ternyata ada domba pengganti yang jadi persembahan yang harum di mata Tuhan. Dimana sebelumnya dengan mata yang sama  Abraham mampu melihat dimana gunung yang Tuhan maksud. Dan gunung itu menjadi tambahan sebutan bagi nama Tuhan kita, yaitu Johovah-Jireh, God is provider, Allah menyediakan.

Allah-pun sesungguhnya sudah mempersiapkan siapa calonnya Ishak. Lewat keturunan Nahor, saudara kandung Abraham. Di Alkitab kita tertulis rincian bagaimana keturunannya Nahor sampai ketemu namanya Ribka yang akan jadi istrinya Ishak, untuk melanjutkan berkat keturunan seperti bintang di langit dan pasir di laut.

Apa maksud perikop ini bagi kita? Pertama, kita pasti akan melewati ujiannya Tuhan, tidak hanya sekali bahkan berkali-kali. Meskipun lulus yang pertama masih akan ada ujian berikutnya. Sampai iman kita murni dan tulus di hadapan Tuhan. Jika tidak lulus pasti akan tetap menghadapi ujian yang sama. Tapi jika lulus, tantangan ujiannya akan makin naik, dan iman kita pun semakin naik.

Kedua, ingat Abraham bagaimana dia lulus dalam setiap ujian yang ada? Yakni miliki telinga yang peka, mata yang tajam dan hati yang penuh dengan ketaatan terhadap firman Tuhan setiap hari. Niscaya kita akan mampu melewati badai ujian. Berkatnya juga akan melimpah kita terima saat kita lulus ujian tersebut. Olehnya jangan mau kalah dengan cobaan dan ujian yang akan datang sama kita.

Lopait, 24 Februari 2026

Janji yang Digenapi dan Air dalam Sumur - Kejadian 21

 

Kejadian 21

Air sangat berguna untuk kelanjutan hidup manusia, mulai dari zaman dulu hingga sekarang, tidak bisa disangkal bagaimana berharganya air. Apalagi jika ada di padang gurun, kebutuhan air menjadi sangat vital. Dalam perikop ini ada tiga peristiwa, pertama bagaimana Allah akhirnya menepati janjinya, kedua bagaimana Ismail dan Hagar di usir, ketiga bagaimana Abraham membuat janji dengan Abimelekh di negerinya. Sehingga di perikop ini bisa diperkirakan lahirnya Ishak anak yang dijanjikan itu di negeri orang Filistin, yakni di Gerar (Kej 20 :1 & Kej 21:34).

Lahirnya Ishak di masa tuanya Abraham menunjukkan betapa setianya Tuhan atas setiap janjinya. Meskipun tampaknya mustahil, fisik yang sudah tua, usia Abraham 100 tahun, Sara 90 tahun dan sudah mati haid, tidak mungkin akan mengandung dan lahirkan anak. Ishak yang artinya tertawa, mematahkan setiap kemustahilan. Awalnya tawa Sara yang meragukan Ishak lahir (Kej 18) menjadi tawa penuh kemenangan di Kej 21. Sementara tawanya Abraham penuh keyakinan (Kej 17) tetap sama di perikop ini.

Sara-pun mengeluarkan pernyataan,: ”Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya.” (Ay. 7). Abraham-pun ingat akan sunat yang menjadi tanda perjanjian Allah dengannya, sehingga di hari ke-8 Ishak-pun disunat.

Akhirnya, tiba bagi Hagar dan Ismail diusir dari kemahnya Abraham. Dimulai bagaimana Ismail bermain dengan Ishak. Tapi dalam Versi Alkitab terjemahan Faithful Version, bukan kata bermain tetapi ‘Mocking’ atau mengejek/mengolok-olok. Bahkan padanannya terjemahan ini ada di Gal 4: 29, Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikianlah sekarang ini. Sehingga tidak heran, jika kita pengikutnya Kristus tetap menjadi sasaran dari kaum seberang sampai sekarang.

Mereka diusir dengan hanya bekal sekirbat air dan roti. Hagar sempat membuang anaknya itu yang sudah remaja, karena habisnya air dalam kirbat. Di tengah-tengah rasa putus asa, Tuhan ternyata mendengarkan seruan hatinya Hagar. Memampukan Hagar melihat solusi atas permasalahannya, yakni air yang ada dalam sumur. Sehingga kehidupan mereka tetap berlangsung, tinggal di padang gurun Paran, dan saat dewasanya Ismail, ibunya mencarikan istri baginya dari bangsa Mesir.

Kemudian, kisah yang hampir mirip tentang persoalan sumur yang digali oleh Abraham ternyata dirampas oleh pasukannya Abimelekh. Saat dia dan Pikhol panglima tentaranya datang ke kemahnya, Abraham langsung menyatakan tentang persoalan sumur itu. Abimelekh menyangkal tentang persoalan sumur itu. Tapi Abraham menyatakan bahwa dia lah yang telah menggali sumur itu. Abraham langsung menyerahkan 7 anak domba betina sebagai tandanya dan harus lah diterima sama Abimelekh. Sehingga tempat itu dinamakan Barsyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah (Kej 21:31).

Apa makna kisah di atas? Pertama, kesetiaan Allah tentang janji Firmannya kekal. Tak sekalipun janji Firmannya gugur. Sekalipun tampak mustahil, tapi Tuhan mampu untuk menyatakannya. Masihkah kita ragu akan janji Firmannya? Sudah kah kita dapat janji Firmannya dalam hidup kita akhir-akhir ini?

Kedua, adanya air adalah awal tandanya kehidupan. Mari temukan air kehidupan itu. Seperti air yang sudah melanjutkan hidupnya Hagar dan Ismail, bahkan Abraham-pun sampai bersumpah tentang air yang ada dalam sumur yang digalinya, sudahkah kita minum air kehidupan yang terus terpancar lewat firmanNya setiap hari, bahkan setiap saat dalam kehidupan kita?

Air kehidupan itu adalah Yesus. Jawab Yesus kepadanya: ”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:13-14). Sudahkah kita menerima Yesus?

Lopait, 23 Febuari 2026

Rabu, 27 Mei 2026

Abraham dan Abimelekh- Pengulangan Kesalahan yang Sama - Kejadian 20



Kisah perikop di Kejadian 20 ternyata mengulangi kesalahan atau pola yang sama persis ketika Abraham di perikop Kejadian 12, saat Abraham memilih pindah ke Mesir untuk bertahan karena hampir seluruh wilayah di dunia kelaparan. Bahkan kalau kita telusuri lagi ke depan, yakni anaknya Abraham, Ishak juga mengulangi pola yang sama. Sehingga total ada 3 kali peristiwa yang sama di dua generasi yang berbeda (Kej 12:13; Kej. 20 : 2 & Kej 26:7).

Ancaman takut dibunuh karena kecantikan Istri menjadi titik persoalan tersebut. Memang tidak sepenuhnya salah, tentang alasannya dengan menyebutkan dia saudaraku. Tapi menjadi salah karena seakan ingin menyelamatkan diri sendiri, dan mengorbankan orang lain. Seakan menjadi sosok pengecut, tidak berani mengambil resiko.

Menjadi salah juga, karena jika Tuhan tidak intervensi untuk menolong, datang ke mimpi si Raja Gerar atau Filistin tersebut, tentu akan merusak jalur keturunan Abraham yang sudah dijanjikan  akan menghasilkan generasi atau keturunan penyelamat dunia, yakni Kristus Yesus.

Meskipun dalam realita yang terjadi dimuat di Matius 1, Silsilah Yesus Kristus sampai ke Abraham total ada 42 generasi, ada 4 kali peristiwa sumbang, tercela atau tidak murni. Dari Yehuda memperanakkan Peres dari menantunya sendiri, Tamar. Salmon memperanakkan Boas dari Rahab si Pelacur. Boas memperanakkan Obed dari Rut si Bangsa Kafir. Terakhir Daud memperanakkan Salomo dari istri Uria yang dibunuh Daud.

Kembali ke kisah Abraham di Tanah Gerar atau orang Falistin, Tuhan tidak mengijinkan Abimelekh merusak Sara istrinya. Meskipun dengan ketulusan Abimelekh untuk memperistrinya. Tuhan tidak setuju bahkan sudah menghukum seluruh orang yang ada istana nya khususnya  para perempuan dewasa tidak akan ada orang yang bisa melahirkan atau dibuat mandul (Kej 20:18). Tapi karena Abimelek dengar-dengaran dengan Firman Tuhan yang datang padanya pada malam harinya lewat sebuah mimpi, kutukan perempuan di Gerar  menjadi mandul dicabut setelah Abraham berdoa kepada Allah.

Apa makna kisah dari perikop ini? Pertama, Kecenderungan berbuat salah pasti akan tetap terjadi di antara generasi yang satu ke generasi yang lain. Jika tidak melakukan evaluasi perbaikan maka kesalahan itu pasti akan terulang. Olehnya untuk memutus rantai kesalahan yang sama, alangkah bijaknya untuk kita melakukan evaluasi dan perbaikan sedini mungkin. Sebab tentu tidak bijak jika terus-menerus melakukan kesalahan yang sama dan jatuh di lobang yang sama pula. Orang sekelas Abraham saja-pun jatuh dua kali di masa hidupnya melakukan kesalahan yang sama di Mesir dan di Gerar, bagaimana dengan kita? Olehnya mari evaluasi.

Kedua, hati nurani yang murni dan tangan yang suci tidak cukup untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan tertentu. Kita butuh data yang lengkap dan menyeluruh untuk bisa mengambil keputusan apa yang tepat dan berdampak bagi kita. Jangan seperti pernyataan Abimelekh memutuskan mengambil istrinya Abraham, meski dengan hati yang murni, tetap salah di mata Tuhan, karena dia tidak kroscek ulang secara lengkap tentang siapa Sara sesungguhnya. Dampaknya Tuhan-pun langsung hukum dia bahkan seluruh perempuan di istananya kena hukuman yang sama.

Lopait, 21 Februari 2026

Selasa, 26 Mei 2026

Runyamnya Keturunan Lot dan Gagalnya Lot Mengajar Keluarganya - Kejadian 19

 

Kejadian 19


Runyamnya perjalanan hidup Lot yang merupakan keponakan dari Abraham, dimulai dari satu kesalahan. Yakni memilih lembah Yordan yang berisi sumber air hingga digambarkan lokasinya mirip taman Tuhan, tapi di negeri itu dipenuhi dengan orang-orang dursila dan banyak keluh kesah orang tentang dua negeri itu. Padahal di sekitar bangsa Sodom dan Gomora ada 3 wilayah yang berdekatan juga, yakni Adma, Zeboim dan Zoar (Kej.14:2).

Kenapa tidak memilih satu dari tiga wilayah itu yang tidak masuk dalam rencana Tuhan akan dimusnahkan Tuhan? Sehingga Dari satu kesalahan berujung menimbulkan kesalahan-kesalahan berikutnya. Tapi meskipun demikian, kesalahan-kesalahan itu tak akan terulang, jika seandainya Lot melakukan fungsi dan perannya dengan baik. Pertama bisa mendidik keluarganya dengan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Kedua, Lot mampu menjalankan fungsinya memuridkan Sodom dan Gomora.

Minimal orang benar dimata Tuhan yang muncul selain dari keluarga Lot, ada total sepuluh jiwa. Sesuai dengan Doa Syafaatnya Abraham (Kej 18:32). Sehingga tugasnya Lot sebenarnya cukup memenangkan 6 orang jiwa lagi.

Dimana sebenarnya sudah ada 2 orang menantu, calon orang benar di mata Tuhan, tapi calon menantunya itu justru mengolok-olok calon mertuanya. Tidak percaya akan firman Tuhan tentang pemusnahan Sodom dan Gomora dengan segera.

Seandainya Lot berhasil meyakinkan dua menantunya ini dan mau ikut serta mengungsi, peristiwa sumbang tidak akan terjadi dalam hidupnya Lot. Dimana dua anaknya melahirkan keturunan dari dia sendiri, yakni Moab dan Amon ( Kej.19 : 31-38).

Kemudian kegagalan berikutnya, adalah istrinya sendiri. Gagal untuk menolong istrinya untuk tidak melihat kebelakang, tidak melihat rumah dan harta bendanya yang berharga semua nya yang berharga semua yang akan dimusnahkan.  Padahal sudah jelas perintah dari dua malaikat yang menarik mereka untuk keluar dari rumah itu untuk tidak melihat ke belakang. Sehingga istrinya menjadi tiang garam (Kej 19:26).

Tugas Lot seharusnya bisa berdampak dan memenangkan Sodom serta Gomora, sehingga tidak dimusnahkan Tuhan. Sudah ada enam orang jiwa, tinggal memuridkan tetangga sebelahnya saja itu lebih dari cukup. Tapi Lot tidak berhasil. Bahkan orang-orang sekitar Lot justru ingin menggagah dua tamu Lot yang dia minta untuk tinggal di rumah nya. Lot-pun bahkan berniat untuk menyerahkan dua putrinya dibandingkan dua tamu yang sedang di rumahnya (Kej 19: 8).

Apa makna dari kisah hidup Lot ini bagi kita? Pertama, mari berfungsi sebagai ayah dan orang tua yang baik bagi keluarga kita. Mengayomi keluarga dan membawa keluarganya sungguh-sungguh mengenal siapa Tuhan dan Kristus dalam keluarga kita.

Kedua, setelah internal keluarga kita mengenal sungguh-sungguh siapa Tuhan yang benar, Tuhan tidak meminta banyak bagi kita, dalam memenangkan jiwa-jiwa yang benar di mata Tuhan. Cukup 6 orang saja (angka minimal) bisa kita bawa kepada Kristus selama hidup kita. Sesungguhnya, Shalom atau damai sejahtera Allah sudah pasti turun ke kota atau bangsa dimana kita tinggal saat ini. Masing-masing kita memenangkan jiwa tersebut, bukankah bumi akan mengenal siapa Tuhan Yesus sebenarnya?

Lopait, 19 Februari 2026

Senin, 25 Mei 2026

Permintaan Abraham Tentang Sodom dan Gomora - Kejadian 18

 

Kejadian 18

Dalam perikop ini, asal ada saja orang benar dalam satu kota atau satu bangsa yang berjuang bagi kota atau bangsanya, niscaya bangsa itu akan luput dari bencana bahkan akan dapatkan berkat dari Tuhan. Begitu juga sebaliknya ketika tidak ada orang benar berdiri disana, niscaya secepat itu bencana atau hukuman Tuhan akan hadir di kota atau di bangsa itu.

Namun tidak cukup mereka yang ada di dalam kota atau bangsa itu, tetap butuh orang benar di luar dari Kota atau bangsa itu yang memohonkan berkat keselamatan. Seperti Abraham yang telah berdoa bagi Sodom dan Gomora yang hendak dihancurkan Tuhan, bahkan sampai enam kali Abraham memohonkan tentang jumlah orang benar yang ada disana. Supaya orang benar tidak diluluhlantahkan bersama dengan orang orang fasik.

Syafaat Abraham mulai dari 50, 45, 40, 30, 20 dan terakhir 10 orang benar jika ada disana dengan sejumlah itu, kota atau bangsa itu tidak akan dimusnahkan. Masalah kuantitas juga diperhatikan sama Tuhan. Karena tidak ada sejumlah itu orang benar berdiri disana bagi bangsanya, akhirnya pemusnahan tidak bisa dihindarkan lagi.

Permohonan ini tidak serta merta terjadi. Abraham yang sudah paham dan mengenal Allah yang turun ke bumi secara langsung, di kisah perikop sebelumnya.  Abraham bisa dengan sangat jelas tahu dan kenal ketika di siang hari yang terik saat ada 3 orang yang datang melintasi perkemahannya di Mamre, meminta mereka untuk mampir sejenak di perkemahannya. Abraham mengambil kesempatan untuk bisa melayani ketiga orang itu dengan menyediakan air untuk membasuh kaki, persembahan berupa roti, menyediakan daging dan susu untuk bisa dinikmati sambil istirahat. Sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.

Tujuan Allah awalnya hendak langsung ke Sodom dan Gomora untuk melihat tentang kejahatan mereka yang sudah sampai dihadapanNya. Tapi karena Abraham adalah orang yang sudah dipilih Tuhan menjadi bangsa yang besar yang akan dilahirkan lewat keturunannya, Tuhanpun tidak bisa menahan tentang apa yang akan direncanakannya terhadap Sodom dan Gomora.

Tetapi sebelum itu, di awal perikop Kejadian 18 ini, terjadi penyampaian janji yang berulang. Di Kej.17 sebenarnya Allah sudah turun jumpai Abram yang kemudian diubah namanya jadi Abraham tentang anak yang akan lahir dari Sara istrinya. Mendengar janji itu, Abraham tertawa karena usianya sudah lanjut dan istrinya sudah mati haid. Tuhan tidak menegor tawanya Abraham di dalam hati. Sementara di perikop Kej.18 saat dengar tertawanya Sara yang meskipun dalam hati, Tuhan tahu. Dia langsung menegor Sara.

Apa makna dari kisah Tuhan Allah turun langsung ke bumi dan menjumpai Abraham? Pertama, Segala hal yang akan Tuhan lakukan bagi bangsa-bangsa yang menolak Tuhan, sesungguhnya Tuhan sudah dan sedang menyampaikan itu terlebih dulu kepada hambanya yang setia. Sehingga pertanyaannya, Adakah kita bersyafaat bagi mereka, dan bagi bangsa itu? Adakah kita berdiri juga bagi bangsa kita sendiri, tampil menjadi orang benar di bangsa ini, meskipun dunia sedang rusak oleh tipu daya si Iblis?

Kedua, tentang janji keturunan bagi Abraham yang akan lahir dari Sara istrinya, yang disambut dengan tertawa seakan meragukan janji Tuhan tersebut digenapi. Beda dengan Abraham yang juga tertawa tapi meyakini bahwa janji itu akan terjadi. Dimanakah sikap kita, apakah seperti tawanya Sara atau tawanya Abraham untuk melihat janji Allah digenapi dalam hidup kita?

Lopait, 18 Februari 2026

Created by Rinto Simorangkir

Minggu, 24 Mei 2026

Perjanjian Baru, dengan Abram yang Jadi Abraham - Kejadian 17

 

Kejadian 17

Baru dalam perikop ini, identitas nama Abram diubah oleh Tuhan menjadi Abraham. Setelah usianya masuk 99 tahun. Begitu juga status dan nama istrinya Sarai yang Tuhan ubah menjadi Sara setelah dia juga berusia 90 tahun. Padahal sejak awal Tuhan memanggil Abraham yakni di usia 75 tahun untuk pergi ke tanah Kanaan, status nama Abram belum berubah.

Mengapa penting untuk mengubah status identitas Abram menjadi Abraham, maupun istrinya juga dari Sarai menjadi Sarai?

Abraham yang berarti menjadi bapa sejumlah besar bangsa, beranak cucu sangat banyak; engkau  menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja (Kej 17:5-6). Sara juga yang berarti  menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya (ay 17).

Kembali ke pertanyaan, dengan status yang baru tersebut, segala janji Allah akan segera tergenapi. Dimana janji keturunan lewat anak perjanjian dari Sara lah yang menjadi perjanjian kekal Allah dengan Abraham. Bukan dari Hagar yang merupakan budaknya. Yang meskipun melahirkan Ismail.

Dimana sebelumnya Abraham sempat meminta untuk Ismail-lah yang menjadi anak yang berkenan di hadapan Allah (Ay.18). Mengenai permintaan tersebut Allah tegas mengatakan tidak. Sebab hanya melalui istrinya Sara lah yang akan melahirkan Ishak setahun ke depan. Bahkan sudah ada nama yang Tuhan berikan kepada Abraham, meskipun realita anak tersebut belum lahir.  Namun demikian, Allah tetap mendengar Abraham tentang Ismail anaknya, yang akan diberkati dengan melahirkan 12 keturunan raja yang memimpin 12 kerajaan besar di bumi.

Perjanjian baru tersebut diteguhkan lewat sunat yang harus dilakukan oleh Abraham dan seluruh keturunan, serta seluruh hamba yang ada bersama dengan dia. Bahkan anak yang dibeli dari hambanya juga harus disunat. Sunat menjadi tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham.

Perintah Tuhan jelas tiap anak laki-laki yang lahir 8 hari haruslah disunat. Sehingga dalam Injil Lukas 2:21, ketika genap 8 hari Yesus-pun disunat. Akhirnya Abraham-pun tetap disunat meskipun usianya sudah 99 tahun, Ismail saat disunat berumur 13 tahun.

Apa makna dari kisah perjanjian baru yang digagas Allah terlebih dahulu dengan Abraham? Pertama identitas kita perlu diubah, sebab kalau tidak diubah, pola-pola lama akan terus melekat. Identitas itu hanya bisa kita ubah jika identitas tersebut ada di dalam Allah sendiri. Seperti Allah yang mengubah identitas dari Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sara.

Identitas kita sekarang hanya bisa berubah jika kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat satu-satunya, dan menjadikan Dia Tuhan dalam hidup kita. Di dalam Kristus Yesus yang merupakan keturunan Abraham, janji keselamatan itu yang dinyatakan kepada manusia, hanya digenapi di dalam Yesus saja.

Kedua, untuk menggenapi makna perjanjian tersebut, sunat menjadi kunci untuk bisa menerima berkat-berkat Allah. Disamping harus disunat secara lahiriah, setelah kita diselamatkan dari maut dosa, apakah hati kita juga sudah disunat dan memiliki karakter Allah?

Lopait, 16 Februari 2026

Rabu, 20 Mei 2026

Abram- Sarai dan Hagar - Kejadian 16

 

Kejadian 16

Abram keluar dari negeri papanya di Haran sekitar 75 tahun. Akhirnya masalah mandulnya istrinya Sarai sudah mulai memuncak. Sudah sekian lama tinggal di tanah Kanaan tepatnya sudah 10 tahun, sang istri Sarai seakan pesimis untuk dapatkan anak. Akhirnya mengusulkan untuk memperistri hambanya si Hagar orang Mesir. Abram-pun setuju atas inisiatif sang istri.

Padahal janji Tuhan di pasal sebelumnya sudah sangat jelas, bahwa melalui keturunannya langsung bersama Sarai istrinya, dia akan memperoleh berkat keturunan. Sepuluh tahun penantian tentu tidaklah mudah bagi Sarai. Akhirnya berupaya seakan menolong Tuhan untuk berkat keturunan ini yang belum pasti.

Akibatnya melahirkan konflik baru lagi. Kesombongan muncul di mata Hagar setelah di dapatkan bahwa dia telah mengandung anak.  Mengakibatkan Sarai-pun bertindak atas hambanya itu. Dengan seijin suaminya, Sarai-pun mulai menindas si Hagar. Hagar tidak tahan setelah mendapatkan perlakuan tersebut. Dia berupaya pergi meninggalkan tuannya di tengah-tengah sedang mengandung.

Tuhan-pun datang menjumpai Hagar, supaya kembali ke sisi tuannya. Pesan Tuhan jelas kepadanya. Mulai dari janji keturunannya akan sangat banyak, hingga Tuhan sudah memilihkan satu nama bagi anak itu, yakni Ismail. Bahkan menubuatkan apa yang akan terjadi sama anak itu, tentang sifatnya seperti keledai liar. Dimana tangannya akan terus berperang bahkan menentang semua saudaranya. 

Sebutan baru Tuhan-pun muncul dari mulut Hagar, setelah konflik dengan Sarai tuannya. Yakni Allah El-Roi yang artinya Bukankah disini kulihat Dia yang telah melihat aku? Dan tepat di usia 86 tahun, Ismail-pun lahir.

Apa makna dari kisah Abram, Sarai dan Hagar tersebut? Pertama tentu tidak bijak untuk berupaya menolong Tuhan, karena dampaknya akan sangat luas dan besar nantinya jika kita menjadi orang yang tidak sabaran akan proses yang sedang dikirim oleh Tuhan kepada kita masing-masing.

Dengan sedikit lagi untuk sabar, nasehat dari Sarai seharusnya tidak akan keceplosan keluar. Sehingga Abram seakan tertantang atas ijin dari istrinya itu. Tak menunggu lama atau konfirmasi dari Tuhan, Abram secepatnya memperistri Hagar.

Kedua, dalam masalah kesulitan sekalipun yang sedang menimpa kita, ingat bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Meskipun itu masalah seorang hamba atau budak seperti Hagar, Tuhan tetap peduli. Apalagi kita yang naturnya adalah seorang pendosa, Tuhan tetap peduli dan sayang kepada kita.

Seperti Hagar, Tuhan kirimkan mata air di jalan ke Syur. Demikian juga kita, Tuhan mampu mengubah air mata kita menjadi mata air yang akan memberikan kelegaan kepada orang-orang yang ada di bawah kita. Dengan caranya yang ajaib, tangan Tuhan bukan kurang panjang. Melainkan dia sedang memproses kita. Apakah kita sudah layak menerima berkat-Nya atau belum?Olehnya jangan jadi orang tidak sabaran, tapi tetap menunggu dengan setia tiap janji Tuhan digenapi atas hidup kita.

Lopait, 14 Februari 2026

Selasa, 19 Mei 2026

Tuhan datang Sendiri ke Abram - Kejadian 15

 

Kejadian 15


Meskipun lewat sebuah penglihatan, setelah melihat perjuangan Abram untuk tinggal di tanah Kanaan, keluar dari tanah leluhurnya, mendapatkan kelaparan dan pergi mengungsi ke Mesir, istrinya direbut, pertengkaran hebat dengan para gembala Lot sehingga akhirnya berpisah, Lot dan semua keluarganya ditangkap, mengalahkan para raja-raja, Tuhan akhirnya datang sendiri kepada Abram.

Datangnya Tuhan seakan melihat bagaimana Abram lulus dengan segala masalah yang datang kepadanya. Tinggal masalah berkat keturunan, istrinya mandul. Bagaimana bisa dapat berkat keturunan kalau istri sendiri mandul?

Dalam perikop Kejadian 15 total sebanyak 21 ayat semuanya tentang bagaimana percakapan Tuhan dengan Abram. Dimulai dari ayat 1. Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: ”Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” '

Upahmu akan sangat besar karena kesetiaannya Abram sendiri. Meski realita dihadapannya, bahwa semua hartanya akan diwariskan kepada orang Damsyik, Eliezer hambanya. Tuhan membalas tidak. Tetap anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli waris.  Abram-pun dibawa untuk menghitung bintang-bintang, apakah dia bisa? Sebegitu banyak bintang di langit, maka sebanyak itulah nanti keturunannya Abram. Dia percaya langsung akan perkataan itu, sehingga Tuhan memperhitungkan itu sebagai kebenaran.

Kemudian dalam diskusi dengan Allah, Abram diminta untuk memotong-motong daging, mulai dari lembu betina, kambing betina, domba jantan yang masing-masing harus berumur 3 tahun, kemudian 2 jenis burung, tekukur dan anak burung merpati. Ada 5 jenis daging binatang yang harus dipotong, tentu tidak gampang memotongnya selesai dalam satu hari.

Akibat kelelahan memotong, Abram-pun tertidur, turunlah gelap gulita. Firman Tuhanpun datang, satu masa tentang keturunannya akan tinggal di negeri asing selama 400 tahun lamanya karena menjadi tawanan. Tapi terhadap bangsa yang memperbudak  itu tidak akan luput dari hukuman Tuhan. Tuhan tetap bela keturunannya Abram.

Kemudian saat asap perapian dari potongan-potongan daging itu lewat, Tuhan-pun kembali mempertegas negeri Kanaan yang akan direbut, dari sungai Mesir sampai ke sungai Efrat, tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus. Kurang lebih ada 10 bangsa yang harus ditumpas. Itulah janji Tuhan kepada Abram.

Apa makna kisah janji Tuhan ini kepada Abram? Apakah kita sudah pernah dapatkan janji Tuhan dalam hidup kita selama ini? Mungkin lewat firman Tuhan yang jadi rhema yang sangat memberkati kita? Atau mungkin lewat khotbah maupun renungan? 

Sudahkah kita tetap memegang teguh akan janji Tuhan itu? Sampai janji itu tergenapi dalam hidup kita? Memang tidak mudah, karena masalah pasti datang. Hal itu akan  menjadi ujian yang akan memurnikan kita. Sudah kah kita juga siap menerima proses-proses ujian yang akan bakal datang? 

Lopait, 13 Februari 2026

Senin, 18 Mei 2026

Abram Versus Para Raja di sekeliling Tanah Kanaan Kejadian 14

 

Kejadian 14


Di tanah Kanaan tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepadanya, Abram bukanlah orang yang tinggal tenang, diam, tidak melakukan apa-apa. Meskipun tidak melakukan apa-apa, masalah tetap ada dan tetap datang.

Kali ini masalah yang timbul dari keponakannya Lot yang hartanya, serta seluruh keluarganya ditawan semuanya. Setelah Gabungan kerajaan yang dipimpin oleh Kedorlaomer dengan 3 raja yang ada bersamanya, yakni Amrafel, Ariokh, dan Tideal mengalahkan pasukan dari kerajaan Sodom yang dipimpin oleh Bera dengan 4 raja ikut bersamanya, yakni Birsya, Syinab, Syemeber, dan Raja negeri Bela atau Zoar.

4 Kerajaan melawan 5 kerajaan, ternyata kerajaan yang dipimpin oleh Kedorlaomer yang hanya punya 4 sekutu kerajaan mampu mengalahkan kekuatan kerajaan yang jauh lebih banyak. Hal ini juga menunjukkan kemampuannya mempertahankan kejayaannya setelah 12 tahun menaklukkan raja-raja Sodom dan kawan-kawan.

Di tahun ke-13 kerajaan Sodom dan cs memberontak, tetapi di tahun ke-14 nya mereka harus takluk kembali di tangan Kedorlaomer di lembah Sidim yang penuh dengan sumur aspal. Ternyata setelah Sodom ditaklukkan, semua penduduk baik harta maupun orang dibawa pergi sama pasukan Kedorlaomer. Dan di situ ada Lot, istri dan anak-anaknya juga kena imbasnya.

Abram tidak diam, setelah mendengar kabar tentang keponakannya itu. Justru dia ambil tanggung jawab lebih. Sekalipun harus mengalahkan 4 kerajaan sekaligus, dia tidak gentar. Disini titik penting yang harus kita ketahui. Bahwa meskipun tinggal di tanah perjanjian, melatih dan mengasah diri serta melatih semua hamba yang ikut bersamanya, dan yang lahir di tempatnya, adalah agenda prioritas yang harus dilakukan. Tidak ada kata malas dalam kamusnya Abram.

Sehingga dengan 318 orang hamba yang ikut bersama Abram, ternyata mampu memporak-porandakan seluruh pasukan Kedarlaomer dan cs pada waktu malam. Bahkan sampai mengejar pasukan-pasukan yang melarikan diri hingga ke Hoba (sebelah utara Damsyik).

Hal ini yang mendorong raja Sodom ingin meminta hamba-hamba Abram menjadi pasukannya. Dengan menawarkan harta yang sudah dirampas Abram kepadanya. Padahal harta itu seharusnya dalam kekuasaan Abram, karena dialah  yang mengalahkan musuh, Bera si Raja Sodom dengan pedenya menyampaikan maksudnya.

Abram-pun seakan marah, dan memutuskan tidak mengambil secuil apapun itu dari harta kerajaan Sodom, tapi tetap mempersilahkan hamba-hambanya yang ikut bersamanya, Aner, Eskol dan Mamre mengambil bagian dari hak mereka.

Beda dengan Melkisedek, raja Salem, seorang imam Allah Yang Mahatinggi yang akhirnya juga datang ke Abram membawa roti dan anggur. Abram mampu mengenalinya, sehingga dia memberikan sepersepuluh dari semua harta jarahan yang ia dapatkan kepadanya, setelah Ia memberikan berkat kepada Abram. Disini konsep perpuluhan muncul.

Apa makna pengalaman Abram ini dalam perikop kejadian 14? Pertama, sekalipun kita sudah berada di tanah perjanjian, pilihan hidup tenang, tidak melakukan apa-apa, karena sudah berada dalam hadirat Allah, bukanlah pilihan yang bijak. Mengasah diri bahkan menolong orang lain untuk bertumbuh juga adalah pilihan terbaik untuk bisa menikmati semua berkat-berkat Allah yang ada di tanah perjanjian.

Kedua, memilih menolong dan bertanggungjawab terhadap keluarga, atau orang ,yang dekat dengan kita saat mereka mendapatkan musibah adalah piihan terbaik. Sekalipun akan mengalahkan para raja yang tentu lebih besar kekuatannya, keberanian melangkah untuk menolong itu yang utamanya. Ini bisa dilakukan ketika poin pertama sudah kita lakukan, yakni adanya persiapan matang. Tidak asal-asalan.

Ketiga, mampu mengenali mana Melkisedek, sang Imam Besar dan mana penjilat, seperti Bera, Raja Sodom yang seakan tidak tahu malu. Mampu bersikap tepat saat tipe-tipe orang ini datang di sekeliling kita, di saat-saat kemenangan kita. Jangan terbalik.

Lopait, 11 Februari 2026

Minggu, 17 Mei 2026

Waspada Jebakan ‘Seperti’ Taman Tuhan - Kejadian 13

 

Kejadian 13


Awalnya saat peristiwa kelaparan besar terjadi di tanah Kanaan, Abram-pun pergi mengungsi ke Mesir, tentu bersama Lot ikut kesana. Saat sesudah kembali dari sana, Kejadian 13 dimulai dari kepulangan Abram dan Lot ke Tanah Negeb, terus berjalan lagi hingga persis di tengah antara Betel dan Ai, disana ia mendirikan kemah.

Baru mengungsi dan tiba kembali di tanah Kanaan, muncul masalah baru dengan keponakannya tersebut. Masalah harta yang kian banyak, khususnya ternak mereka yang kian melimpah tapi lahan terbatas. Sehingga sering terjadi perkelahian antara gembala Lot maupun gembala Abram sendiri.

Abram dengan lembut bicara dengan Lot, “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau...” . Bahkan dengan lahan yang masih terbentang luas di sekitar mereka, Abram juga memberikan kesempatan Lot memilih di awal, mana yang cocok untuk mengembangkan usaha atau bisnis yang sedang mereka kerjakan. “Jika engkau ke kiri, makan aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri”.

Setelah itu akhirnya  Lot melihat lembah Yordan yang banyak airnya, “seperti taman Tuhan”. Sebuah taman yang berada di sebelah timur tapi kotanya terkenal sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Lot seakan buta, lembah Yordan yang dalam pemikirannya seperti taman Tuhan, sebenarnya telah berubah menjadi lembah jebakan baginya, istrinya, bahkan anak-anaknya serta menantunya juga. Pasalnya kejahatan kota Sodom dan Gomora sudah sampai di hadapan Tuhan alam semesta. Sehingga keputusan Tuhan sudah bulat untuk memusnahkan ke dua kota itu.

Sementara pilihan Abram tetap ada di lokasi tanah Kanaannya, yakni pindah dari pertengahan Betel dan Ai ke dekat Hebron persis dekat pohon-pohon terbantin di Mamre.  Tidak goyah meskipun ada banyak masalah, pilihan tetap tinggal dalam hadirat Tuhan yakni di tanah Kanaan, adalah pilihan terbaik satu-satunya.

Sesudah Lot memisahkan diri darinya, Tuhan-pun datang memberikan janji sekaligus tugas yang baru bagi nya. Yakni memandang dan melihat sekelilingnya yang hasilnya itu semua akan jadi miliknya dan keturunannya. Selain melihat, Tuhan juga perintahkan untuk berjalan menurut panjang dan lebarnya. Tidak cukup hanya melihat visi tapi juga harus melangkah untuk mencapai visi tersebut.

Jebakan seperti Taman Tuhan harusnya kita bisa hindari. Meskipun tampak melimpah air, tapi jika warga daerahnya dipenuhi oleh orang-orang jahat di mata Tuhan, pilihan untuk tinggal disitu dan menetap harus lah dipertimbangkan ulang. Pasalnya kalau tidak, risiko besar terjadi bukan hanya kepada kita, tetapi kepada keluarga terdekat kita akan terkena imbasnya.

Mata kita terkadang menipu, bahkan pikiran kita-pun sama. Jika kita tidak konfirmasi ulang apa yang kita lihat dan kita pikirkan, kepada orang yang sudah paham dulu, maka niscaya kita akan jatuh.

Peran Abram harusnya keluar untuk menolong Lot supaya tidak terkena tipuan matanya. Pasalnya dia orang yang sangat dekat dan paham siapa Allah penciptanya. Tapi alkitab kita tidak mencatat larangan atau teguran kepada keponakannya itu. 

Apa pelajaran dari kisah ini? Pertama, harta yang bertambah banyak, bisa jadi masalah. Apalagi jika punya rekan kerja dalam bertambahnya harta tersebut. Adalah baik untuk memprioritaskan hubungan persahabatan apalagi hubungan kekeluargaan daripada harta yang melimpah tersebut.

Kedua, ada baiknya sebelum memutuskan segala sesuatu tanya Tuhan terlebih dahulu. Kemudian, teman atau orang yang lebih paham tentang medan keputusan yang kita ambil. Untuk dapatkan konfirmasinya baru kita memutuskannya.

Ketiga, Kita sebagai orang yang lebih tua, lebih paham, harusnya bisa memberikan bantuan dan masukan kepada junior kita. Meskipun awalnya sudah baik memberikan kesempatan yang muda dalam memilih mana bagiannya, tentu sangat lah bijak jika ada penyampaian akibat atau konsekuensi dari masing-masing pilihan itu?

Olehnya, waspadalah Jebakan “seperti Taman Tuhan”.

Lopait, 9 Februari 2026

Kamis, 14 Mei 2026

Harga Panggilan Abram - Kejadian 12

 

Kejadiana 12


Umur 75 tahun tentu tidak lagi usia muda bagi seseorang untuk pergi mengerjakan sebuah panggilan yang mulia dari Allah. Tapi Abram tetap dipanggil untuk melaksanakan misi tersebut. Itu setelah mendapatkan sebuah perintah yang jelas dari Tuhan sendiri kepadanya. Menjadi permulaan di perikop ini.

Perintah Tuhan jelas, Pergi meninggalkan negerinya ke tanah Kanaan yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Belum jelas kemana tapi arahnya sudah jelas. Ini menjadi perjalanan kedua bagi Abram sendiri. Setelah papanya juga melakukan perpindahan dari Ur Kasdim atau Mesopotamia (Kis 7:2-3) ke tanah kanaan Papanya, yaitu Haran. Kali ini dia bersama istri dan keponakannya Lot dibawa serta dalam perjalanan menuju Kanaan. 

Janji Tuhan juga sangat jelas kepada Abram. Yakni menjadi bangsa yang besar, namanya akan  masyhur, dan senantiasa diberkati Tuhan. Khusus janji berkat sangat spesifik disampaikan, siapa yang memberkati Abram akan mendapatkan balasan berkat, tapi sebaliknya siapa yang mengutuk akan dapat kutuk. 

Berkat yang paling utama adalah oleh karena Abram semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Berkat ini ternyata dalam ayat Gal 3:16 disebutkan Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu kepada keturunannya. Tidak dikatakan “Kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus.

Terlepas dari panggilan yang khusus kepada Abraham bahkan janji Tuhan yang sudah disampaikan, masalah tentu tak lepas. Mulai dari masalah mendapatkan berkat keturunan, karena istrinya di dapatkan mandul, tidak akan punya anak (Kej.11: 30). Kemudian kecantikan dari istrinya sendiri juga masalah bagi Abram.

Dimana karena kelaparan hebat terjadi di tanah Kanaan-nya Abram, jangan bilang di tanah Kanaan (tanah yang dijanjikan Tuhan) tidak akan pernah lapar. Hasil pertanian yang diolah gagal dan kelaparan hebat terjadi. Ini juga bagian dari masalah. Abram memutuskan untuk mengungsi ke Mesir. Untuk menyelamatkan nyawanya, karena kecantikan istrinya, sampai tega menyebut istrinya adalah saudaranya, meskipun tidak sepenuhnya salah juga pernyataannya.

Apa yang ditakutkan Abram-pun terjadi, penguasa tertinggi Mesir, Firaun sendiri yang hendak mengambil istrinya Abram. Bersyukurnya Tuhan membela untuk persoalan istri Abram yang diambil. Karena memang akan mengganggu jalannya rencana keselamatan lewat keturunan Abram bersama Sarai istrinya. 

Segala sesuatu yang menghadang atau menggagalkan rencana Tuhan terjadi dalam hidup kita, tentu Tuhan yang akan bela. Persoalan kelaparan, seakan Tuhan biarkan untuk melatih bagaimana Abram tetap bertahan di tengah situasi tersebut, dan apa keputusan yang akan diambilnya. Untuk persoalan mandulnya istrinya, juga Tuhan seakan sengaja untuk melatih kembali Abram, bagaimana Iman dan percayanya saja kepada Tuhan. 

Itu harga yang Abram pikul dalam menjalankan panggilannya di perikop Kejadian 12. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengerjakan Panggilan sesungguhnya yang sebenarnya Tuhan sudah taruh di depan mata kita, tapi kita enggan untuk pergi dan melangkah? Kemudian, saat menjalankan panggilan tersebut, sudah siapkah kita bayar harga untuk mengerjakan panggilan tersebut, atau malah kita ternyata pelan-pelan ingin mundur. Akankah kita seperti itu?

Lopait, 6 Februari 2026

Rabu, 13 Mei 2026

Manusia Babel Vs Keturunan Sem sampai Abraham - Kejadian 11

 

Kejadian 11

Saat kesatuan menghalangi rencana Tuhan untuk memenuhi bumi (Kej 1: 28), Tuhan bertindak sendiri dan langsung turun ke bumi. Niatan manusia dalam peristiwa Babel, yang memang saat itu seluruh bumi hanya memiliki satu bahasa dan satu logat, manusia tidak ingin menyebar kemana-mana. Sehingga berupaya mendirikan sebuah menara yang sanggup menampung mereka.

Sekalipun menara itu hingga menjulang ke langit, manusia ternyata mampu merealisasikannya. Itulah kekuatan manusia, bahkan Tuhan sampai mengeluarkan firman, ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Artinya Tuhan-pun ternyata mendukung setiap perencanaan-perencanaan manusia. Tapi ingat jika perencanaan itu bertentangan dengan maksud dan rancangan awal Tuhan, pastikan perencanaan itu akan gagal di ujungnya.

Ketika satu bahasa menjadi penghalang, manusia tidak akan memenuhi bumi, Tuhan-pun bertindak dengan memberikan berbagai macam bahasa dan logat (Kej 7:7). Akhirnya mau tidak mau, mereka-pun berkumpul mereka yang bisa mengerti bahasa satu dengan yang lain, dan pergi ke belahan bumi yang lain untuk bisa berkumpul menjadi satu bangsa tersendiri (Kej 7:8).

Kontras antara Nimrod sebagai founder menara Babel, yang merupakan keturunan Ham, dengan Peleg, dari keturunan Sam dalam Kejadian 11. Sebab Alkitab mencatat masa Peleg adalah masa bumi terbagi (Kej 10:25; 1 Taw 1:19). Bumi terbagi, mereka yang menyatu dalam menara Babel sendiri dengan keturunan Sem sendiri.  Untuk peristiwa Babel hanya 9 ayat, sisanya membahas tentang keturunan Sem hingga akhirnya mendapat satu nama, yakni Abram atau Abraham.

Dari Sem sampai Abram total ada sepuluh generasi. Diurutkan, Sem (2 tahun setelah air bah), Arpakhsad-35 tahun, Selah-30 tahun, Eber-34 tahun, Peleg-30 tahun, Rehu-32 tahun, Serug-30 tahun, Nahor-29 tahun, Terah-70 tahun, Abram lahir. Jika menghitung tahunnya, untuk mendapatkan Abram atau Abraham ada sebanyak 385 tahun. Artinya dari peristiwa air bah sampai Abraham lahir ada masa 285 tahun, menurut versi Kejadian 11.

Terah-pun membawa Abram, anaknya  dan istri Abram, Sarai, serta Lot cucunya pergi keluar dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan. Mereka sampai ke Haran dan menetap disana, serta Terah-pun mati di Haran pada usia 205 tahun. Sementara anak Terah yang lainnya, Nahor tetap berada di Ur-Kasdim. Tercatat Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak (Kej 11:30).

Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah dalam Kejadian 11 ini? Pertama dari kisah Nimrod yakni menara Babel,  setiap perencanaan yang tidak dari Tuhan, apalagi sampai menghalangi maksud Tuhan akan bumi, bisa dipastikan rencana itu tidak akan berhasil di ujungnya. Meskipun awalnya tampak berhasil, setelah Menara Babel berdiri, Tuhan punya cara sendiri untuk mereka berserak dan pergi ke tempat lain, dengan bahasa dan logat yang bermacam-macam. Jadi libatkan Tuhan dalam perencanaan kita dan pastikan rencana itu untuk mewujudkan rencana-Nya.

Kedua, untuk mendapatkan Abram atau Abraham yang akan menjadi tokoh sentral dalam iman kita, butuh sepuluh generasi. Waktunya tidak singkat butuh proses. Bahkan bibit masalah-pun sudah ada di awal bagi Abram sendiri , dimana istrinya, Sarai itu mandul, tidak bakal punya anak dikemudian hari. Artinya, Tuhan selalu memproses kita lewat masalah-masalah yang ada. Kita hanya butuh bertahan dan tanya Tuhan untuk itu semua. Sudahkan kita bergantung padaNya?

Lopait, 3 Februari 2026

Selasa, 12 Mei 2026

Keturunan Nuh yang Menonjol - Kejadian 10

 

Kejadian 10


Firman Allah itu kekal, runut dan teratur. Pasalnya sejak penciptaan yakni tepatnya di Kejadian 5, Allah merunut keturunan dari Adam hingga ke Nuh. Total ada sepuluh generasi. Kemudian setelah Air Bah, tepatnya di Kejadian 10, muncul lagi penguraian keturunan dari Nuh dengan 3 cabang utama anaknya, Sem, Ham dan Yafet. Sehingga sangat mudah mengingatnya 5 dan 10 dalam Kejadian merupakan kisah berkat keturunan manusia. Menariknya juga total jumlah ayatnya juga sama yakni 32 ayat, baik di Kejadian 5 maupun di Kejadian 10.

Penguraian keturunan dimulai dari Yafet dari ayat 2 sampai ayat 5. Sangat singkat dan hanya sampai kepada dua generasi dibawahnya, yakni Gomer dan 6 saudaranya yang lain, kemudian generasi anak Gomer yakni Askenas. 5 Saudara Gomer tidak disebutkan anak-anak dibawah mereka, sementara yang disebut ada anak-anaknya, yakni Gomer dan Yawan. 

Uniknya kisah yang mendapat sorotan yang paling banyak dan menonjol adalah keturunan dari Ham. Dari ayat 6 sampai 20 total ada 15 ayat menceritakan bagaimana anak-anak Ham. Kemudian dilanjut  sebanyak 12 ayat menceritakan bagaimana berkat keturunan Sem.

Meskipun Ham mendapatkan kutuk dari Papanya Nuh di pasal sembilan, tetapi justru di pasal 10 bagaimana keturunannya menjadi para pendiri bangsa-bangsa dan sangat menonjol dari keturunan-keturunan yang lain. Khususnya nama Nimrod dari papanya yang bernama Kush, dia tercatat sebagai orang yang pertama berkuasa di bumi (ay. 8). Nimrod juga menjadi orang yang gagah perkasa bukan hanya dihadapan manusia saja, juga di hadapan Allah.

Disamping statusnya yang gagah perkasa, Nimrod juga menjadi pencetus berdirinya 3 kerajaan sekaligus, yani Babel, Erekh dan Akad (Ay.10). Erekh dan Akad posisinya berada di Irak sekarang. Nimrod juga membangun kota-kota besar, mulai dari Niniwe, Rehoboth-Ir, Kalah dan Resen (Ay.11).

Selanjutnya diuraikan berkat keturunan dari anak-anak Ham yang lain, yakni Misraim, Put dan Kanaan. Khusus Put, alkitab kita tidak mencatat siapa berkat keturunan dari dirinya. Yang sangat jelas ditulis adalah Misraim dimana munculnya Kota Filistin-kota yang sangat kita kenal.

Kemudian Kanaan, dengan anak sulungnya bernama Sidon dengan saudara-saudaranya yang lain, yakni Het, Yebusi, Amori, dan anak-anak yang lain yang berjumlah 11 keturunan dari Papanya.

Sementara Sem, sampai 5 generasi dibawahnya diuraikan dalam perikop ini. Yakni yang sangat terkenal adalah Arpakhsad, generasi pertama. Generasi selanjutnya ada Selah, Eber, Yoktan dan generasi kelimanya ada Almodad dengan 12 saudaranya yang lain. Belum dijelaskan sampai Abram, yang merupakan Garis keturunan dari Arpakhsad.

Apa pelajaran dari perikop ini? Pertama Tuhan tidak pernah sembarang dengan firman-firman yang Ia ucapkan. Sangat teratur dan sangat runut, sehingga kalau kita petakan, kita dengan sangat jelas dapat tahu bagaimana nenek moyang kita zaman dulu dan akhirnya kita pun bisa menyelidikinya kembali. Menjadi sebuah kebenaran yang sangat berharga.

Kedua, pentingnya kerja keras, ulet dan tangguh sehingga bisa menonjol dari sekian banyak keturunan yang ada. Kalau tidak menonjol kemungkinan untuk diingat di zaman selanjutnya akan sangat berkurang dan akhirnya terhilang begitu saja. Seperti Nimrod yang tercatat sebagai orang yang gagah perkasa. Bukan hanya 1 kota tapi tapi 4 kota, kemudian 3 kerajaan pula. Kerja kerasnya luar biasa.

Pertanyaanya Sudahkah kita berupaya hidup teratur dan tertib? Kemudian dalam tanggungjawab kita  sudahkah kita kerja keras untuk mewujudkannya bahkan hasilnya pun sampai extra mile ?

Lopait, 31 Januari 2026

Sabtu, 09 Mei 2026

Beranak Cucu dan Bertambah Banyak - Kejadian 9

Kejadian 9


Usai peristiwa air bah di kejadian 9, awal sekali yang Tuhan lakukan adalah memberkati mereka dan menyatakan firman kepada mereka, beranak cucu dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. Bahkan dalam perikop ini sampai tiga kali pernyataan itu keluar yakni di ayat 7 dan ayat 19. Di ayat 19 menjadi ayat perwujudan dari perintah Tuhan tersebut.

Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.” Kej 9:7; Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi. Kej. 9:19. Firman ini juga mengulang perintah firman kepada Adam sebagai manusia awal yang Tuhan ciptakan (Kej 1:28). Setelah firman tersebut keluar selanjutnya firman tidak akan menghancurkan bumi kembali dengan air bah lewat tanda yang akan Tuhan buat senantiasa yang kita kenal saat ini yaitu pelangi. Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 'Kejadian 9:13. 

Firman inipun keluar setelah Tuhan mencium persembahan Nuh dan Ia berfirman di dalam hati-Nya (Kej 8:21). Ada proses yang terjadi sebelum Nuh dan seluruh mahluk hidup mendapatkan firman kedua tersebut, yakni saat Nuh memberikan persembahan yang harum dihadapan Tuhan. Selanjutnya dinamika dalam keluarga Nuh juga ada setelah sesi Tuhan bicara dengan mereka, mulai dari ayat 18-29. Dimana perkataan kutuk dan berkat keluar kepada anak-anaknya Sem, Ham dan Yafet. Setelah Nuh yang adalah seorang petani anggur mula-mula, menjadi mabuk setelah minum hasil anggurnya. Tercatat karena mabuknya ia telanjang dalam kemahnya. Hal ini terlihat sama anak-anaknya.

Ham yang secara langsung melihat aurat papanya tidak melakukan apa-apa menolong papanya tapi cerita kepada kedua saudaranya yang lain. Sementara Sam dan Yafet berjalan mundur kemudian pergi menutup aurat papanya. Perkataan kutuk keluar kepada Ham, menjadi hamba yang paling hina, sementara Sam dan Yafet dapatkan berkat.

Apa pembelajaran dari kisah ini? Berkat atau kutuk bisa datang akibat dari pilihan-pilihan yang kita lakukan. Setelah bumi kembali di reset oleh Allah sendiri, Tuhan selalu ingin memberkati kita lagi, tapi waspada saat kutuk terucap, bukan oleh Tuhan tapi oleh manusia. Dimana saat Nuh ternyata mengutuk Kanaan atau Ham, karena pilihan Ham tidak berbuat apa-apa saat papanya lagi jatuh atau mabuk. Dia malah cerita kepada dua saudaranya yang lain. 

Tapi sebaliknya berkat datang kepada Sem dan Yafet setelah berbuat baik kepada papanya. Sem menjadi pemimpin dari saudara-saudaranya yang lain. Yafet diberkati dengan meluaskan tempat kediaman Yafet dan tetap tinggal dalam kemah-kemah Sem. Sementara Ham atau Kanaan menjadi hamba bagi kedua saudaranya yang lain.

Kemudian, berkat keturunan dan berkuasa atas segala ciptaan Tuhan lainnya datang atas inisiatif Tuhan sendiri. Bumi yang indah yang Ia ciptakan setelah mengalami pembaruan lagi, ingin melahirkan anak-anak Allah yang bisa menguasai, memelihara dan bahkan mengembangkan segala potensi alam yang Tuhan Allah sudah ciptakan sebelumnya.  Tapi ternyata kutuk masih ada dan terucapkan. Sehingga potensi rusaknya manusia tetap terjadi. Olehnya hati-hati dengan perkataan kita sendiri. Apalagi kepada keturunan kita sendiri.

Lopait, 28 Januari 2026

Jumat, 08 Mei 2026

Selama Bumi Masih Ada - Kejadian 8

 

Kejadian 8

Total lamanya bencana air bah yang terjadi kurang lebih setahun. Mulai dari air naik sampai masa puncaknya kurang lebih 150 hari. Kemudian semakin berkurang, surut dan akhirnya Nuh keluar dari bahtera kurang lebih 150-an hari juga. Tercatat dalam Kej.7: 6, Nuh berumur 600 tahun ketika air bah datang.

Puncak-puncak mulai tampak ketika masuk bulan ke-10, membuka tingkap bahtera di bulan ke 11 dan 12. Mencari tanda-tanda apakah seluruh bumi mulai kering Nuh menunggu hingga 21 hari lagi. Dengan menerbangkan gagak dan merpati. Karena burung gagak pulang pergi setelah dilepas, Nuh sulit memperkirakan apakah bumi telah surut benar, dia mengirim merpati. 

Tepat pada tahun ke-601, bulan pertama, tanggal satu  air mulai kering. Keluar dari bahtera setelah di bulan kedua, hari ke-27, setelah Tuhan berfirman. Apa artinya dua kejadian tersebut? Pertama untuk menyiapkan perbekalan makanan selama kurang lebih setahun baik untuk keluarganya maupun bagi seluruh binatang, persiapan Nuh tidak sembarang. Dia butuh manajemen tempat makanan dan waktu-waktu pemberian yang terbaik supaya makanan yang diberikan tetap fresh atau segar.

Bagaimana dengan kita, apakah kita siap, jika sesuatu terjadi selama setahun kedepan? Jika tidak ada makanan atau minuman karena situasi perang atau apapun itu, apakah bisa tetap kita bertahan?

Disamping itu, dalam menentukan bagaimana dan kapan ia keluar, Nuh tidak melulu menunggu bagaimana suara Tuhan datang kepadanya. Ia gunakan akal dan pikirannya untuk mengecek terlebih dahulu bagaimana dan apa yang terjadi diluar? Suara Tuhan jadi konfirmasi akhir setelah penyelidikannya lewat burung gagak atau burung merpati. Bagaimana dengan kita, apakah kita hanya sebatas nge-roh saja tanpa menggunakan akal budi yang juga Tuhan sudah buat bagi kita?

Kemudian tema renungan kali ini saya langsung ambil dari ayat penutup di Kejadian 8 yang berbunyi :  Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.

Waktu akan terus berjalan sesuai dengan rencana dan kairos-nya Tuhan. Sejak awal penciptaan hingga akhirnya. Perlunya perencanaan yang matang seperti Nuh bagaimana mengelola sumber daya yang ia miliki saat sebelum, sedang dan sesudah air bah? Untuk perencanaan tersebut kita butuh yang nama akal budi dan pikiran yang baik, dan semuanya itu datangnya dari Tuhan.

Melatih akal budi dan pikiran senantiasa dengan terus connect atau terhubung dengan Tuhan kemudian menjadi tidak serupa dengan dunia dengan segala kegerlapannya adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan juga.  

Janji Tuhan ini sangatlah powerful, selama bumi masih ada, musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam, akan selalu berganti setiap hari. Apakah kita sudah seperti Nuh berpikir, bersikap, bertindak? Apakah kita sudah menjadi rekan kerja Allah di dunia ini untuk menjadi terang dan garam?                                                                                Lopait, 26 Januari 2026              

Kamis, 07 Mei 2026

Air Bah dan Musnahnya Manusia dan Seluruh Mahluk Hidup - Kejadian 7

 

Kejadian 7

Proyek ketaatan Nuh yakni saat membuat kapal atau bahtera sampai seratus tahun menjadi cara keselamatan yang ditunjukkan Allah kepadanya. Seandainya Nuh lalai satu perkara saja dari yang diperintahkan Tuhan, tentu akan mendatangkan masalah di kemudian hari. Hal tersebut tercatat dalam ayat 5 ‘Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya.’

Mereka yang selamat termasuk binatang, Nuh sekeluarga, binatang yang tidak haram masing-masing 7 pasangan, binatang yang haram cukup satu pasang, burung-burung juga dengan berbagai jenisnya 7 pasang.

Ketaatan dari binatang juga untuk datang ke bahtera Nuh juga menjadi keselamatan tersendiri bagi mereka. Seandainya jika mereka menolak  untuk datang akan jadi kemusnahan bagi kaum mereka juga. Artinya ketaatan menjadi satu-satunya cara untuk bisa selamat dari kemusnahan yang sudah Tuhan rancangkan sebelumnya.

Waktu-waktu yang Tuhan tetapkan juga sangat ketat. Usai pembuatan bahtera, mulai dari kedatangan masing-masing binatang yang hanya 7 hari saja (ayat 10), turunnya hujan lebat40 hari 40 malam (ayat 12), 40 hari air bah naik dan mengangkat bahtera itu sehingga melambung tinggi dari bumi (ayat 17).  Dan berkuasanya air itu di atas bumi 150 hari (ayat 24).

Kisah Nuh menjadi satu rujukan proses keselamatan yang Tuhan tunjukkan di Perjanjian Baru. Ibrani 11: 7 Karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Petrus juga mengutip dalam kitabnya, 1 Petrus 3:20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. ' 2 Petrus 2:5 dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; '

Tuhan Yesus juga mengutip kisah Nuh dalam khotbah pembelajaran kepada murid-muridnya tentang kedatangan Kerajaan Allah,  Lukas 17: 26. Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulahlah halnya kelak pada hari-hari anak Manusia.

Apa arti perenungan dari Kejadian 7 ini? Perintah Tuhan atau firmanNya menjadi satu-satunya perintah yang bisa menghidupkan dan menyelamatkan kita. Menghindarkan kita dari kemusnahan. Meskipun tidak mengerti pada awalnya apa itu, ketaatan menjadi modal awal kita untuk ikut dalam rancangan keselamatan yang sudah Tuhan taruh dalam hidup kita?

Masihkah kita akan terus memberontak dan tidak taat akan perintah-Nya?

Lopait, 22 Januari 2026

Selama Bumi Masih Ada

Rabu, 06 Mei 2026

Menjadi Manusia Nuh - Kejadian 6

 

Kejadian 6

Meskipun dunia khususnya si manusia dalam pandangan Tuhan adalah ciptaan yang gagal, karena kejahatannya yang besar, dan kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata (ayat 5), tapi Nuh mendapatkan tempat yang spesial di mata Tuhan. 'Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan (Kejadian 6:8).

Bagaimana bisa sosok Nuh spesial dimata Tuhan? Tentu berkaca kepada ayat-ayat sebelumnya, yakni dia menjadi sosok yang berbeda dari kebanyakan manusia yang ada. Pertama, keturunan dan komitmen Nuh yang tidak mau mencemarkan dirinya dengan kawin campur. Dimana keturunan Nuh yang memang berasal dari keturunan Allah atau anak-anak Allah, tetap memilih pasangan dari mereka yang masih satu garis dari keturunan Allah.

Sementara mereka manusia-manusia jahat, terjadi percampuran benih lewat pasangan yang tidak seimbang. Alhasil Tuhan memutuskan 3 hal terjadi bagi manusia itu. Pertama tidak membiarkan Roh-Nya selama-selamanya tinggal di dalam manusia. Kemudian, usia manusia hanya akan mencapai 120 tahun saja. Ketiga, akan menghapuskan bukan hanya manusia, sebagai ciptaan-Nya, hewan dan segala binatang yang melata, di udara juga dapat imbasnya, yakni akan dipunahkan.

Dengan persoalan yang ada di zamannya Nuh, ternyata masih terjadi sampai sekarang. Ada begitu banyak manusia jahat, tapi tidak sedikit manusia yang baik dan yang bekenan kepada Allah. Mau tidak mau kuncinya untuk menjadi manusia Nuh adalah pilihan yang harus kita buat, kalau tidak, Roh Allah meninggalkan kita, usianya dikurangi dan terakhir mati atau binasa.

Bagaimana supaya kita bisa menjadi manusia Nuh? Pertama memilih hidup yang benar dan tidak bercela sedikitpun dimata Tuhan (ay.9). Kedua dan ini yang menjadi sangat penting, yakni ketaatan dan menyelesaikan apa yang menjadi Firman Tuhan yang datang kepadanya. Nuh tidak membiarkan satu Firman Tuhan lewat begitu saja, tapa melakukan apapun itu yang menjadi kehendak-Nya.

Mulai dari ayat 13 sampai ayat 22, sangat jelas tertulis kondisi kekinian yang terjadi, apa yang harus dilakukan Nuh, yakni membuat sebuah kapal yang sangat spesifik, panjang, lebar hingga tingginya, hingga apa yang akan terjadi setelah tugas pembuatan kapal selesai. Dan bagaimana perjanjian baru yang Tuhan buat kepada Nuh setelah manusia lama dan jahat tersebut hilang setelah badai banjir datang untuk memusnahkan manusia?

Perkiraan pembuatan kapal kurang lebih dari 100 tahun. Kerena kelahiran Sem, Ham dan Yafet tepat di 500 tahun usia Nuh (Kej 5: 32). Dan datangnya air bah setelah usia Nuh ada diangka 600 tahun (Kej 7: 6). Artinya dimasa-masa 100 tahun tentu bukan hal yang mudah untuk tidak mendengarkan segala cemoohan yang mungkin datang dari tetangga-tetangga Nuh. Tapi Nuh tetap setia kepada perkataan dan janji Allah yang datang kepadanya.

Kemudian untuk menyelesaikan semua tugas yang Tuhan perintahkan, perlunya clarity atau kejelasan yang sangat jelas sebelum melakukan sebuah tugas. Bagaimana detail kapal yang ia buat harus sesuai dengan maksud Tuhan. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

Pertanyaanya, sudahkah kita dengan jelas menerima apa yang menjadi tugas dan mandat yang harus kita kerjakan selama ini?

Lopait, 19 Januari 2026

Selasa, 05 Mei 2026

Generasi Adam sampai Nuh, Kita Pelajari Apa? Kejadian 5

 

Kejadian 5


Ada berapa generasi dari Adam ke Nuh? Yakni sepuluh generasi. Coba kita list dari Adam, Set, Enos, Kenan, Mahalaleel, Yared, Henokh, Metusalah, Lamekh, Nuh. Alkitab kita sangat jelas dengan usia-usia mereka dari lama mereka hidup, kapan melahirkan generasi selanjutnya, sehingga jika kita coba hitung berapa usia bumi sebelum Tuhan turunkan air bah? Kita ketemu dengan angka 1.656 tahun.

Angka tersebut di dapat dari usia masing-masing saat generasi dibawahnya lahir. Seperti Adam usia 130 tahun, Seth lahir. Jika diurutkan masing-masing tahun, Adam 130 tahun, Seth 105 tahun, Enos 90 tahun, Kenan 70 tahun, Mahalaleel 65 tahun, Yared 162 tahun, Henok 65 tahun, Metusalah 187 tahun, Lamekh 182 tahun, Nuh 600 tahun maka total ketemu angka bumi sebelum dunia dihancurkan dalam Air Bah ada di tahun 1.656 tahun.

Meskipun usia Adam sendiri sampai 930 tahun saat matinya, artinya Adam masih sempat melihat generasi ke-8 yakni hingga Metusalah lahir. Begitu juga Seth meninggal di usia 912 tahun masih bisa melihat generasi ke-8 juga yakni Metusalah (kurang 14 tahun) lagi baru bisa melihat generasi ke-9 Lamekh lahir.

Kemudian generasi yang masih hidup ketika Nuh lahir di tahun 1.056, ada Enos, Kenan, hingga ke Lamekh papanya Nuh.  Tapi saat bumi akan dihancurkan kemungkinan Nuh masih bersama Yared, Metusalah, dan Lamekh. Sementara Henokh sudah diangkat Tuhan setelah 300 tahun bersahabat dengan Tuhan secara langsung di bumi.

Dari sepuluh generasi dari Adam, tampak Henok dan Nuh yang mendapat tempat spesial dimata Tuhan. Pertama Henokh, meskipun usianya tidak setua dari generasi yang ada saat itu, dia tercatat sebagai orang yang hidupnya bergaul dengan Tuhan. Sebuah prestasi yang sangat baik, karena di zaman itu, boro-boro mau mengenal Tuhan, hidup dengan kedagingan, kemunafikan, kejahatan menjadi pilihan yang sangat banyak dipilih. Apalagi tanah yang mereka kelola sudah menjadi tanah yang kian terkutuk karena ulahnya Kain.

Kemudian ada Nuh, oleh Lamekh papanya, sudah melihat ada potensi dalam dirinya Nuh, bahwa dia akan memberi penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh Tuhan (Ayat 29). Dalam terjemahan Amplified Bible, kata penghiburan jadi kata istirahat dan kenyamanan (rest and comfort).

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah 10 orang nenek moyang kita di bumi ini? Dengan generasi-generasi yang berbeda, dan bahkan masih bisa melihat generasi mereka hingga ke generasi ke-8, tentu pengalaman sulit mengolah tanah yang terkutuk sangat membekas kepada Lamekh. Sehingga ketika Lamekh melihat Nuh lahir, harapan akan masa nyaman dan bisa istirahat akhirnya muncul.

Tugas kita tentu melahirkan generasi yang berbeda dari generasi kita saat ini. Itu bisa terjadi jika kita mau mengupayakannya dengan sungguh-sungguh. Tapi itu-pun tidak akan serta merta terjadi jika kita tidak punya pengalaman bergaul dengan Tuhan. Seperti pergaulan Henok dengan Tuhan pencipta-Nya. Pengalaman-pengalaman ini harus kita perbanyak, yakni melibatkan Tuhan dalam segala hal. Sudah kah kita melakukannya?

Lopait, 15 Januari 2026

Senin, 04 Mei 2026

Belajar dari Keluarga Pertama, Adam - Kejadian 4

 

Kejadian 4


Kisah dalam Kejadian 4 bukanlah sebuah drama, tapi sebuah fakta atau benar terjadi dan mungkin terjadi hingga sekarang. Bagaimana pembunuhan itu terjadi, bukan dengan orang yang jauh, bahkan orang yang sangat dekat sekalipun?  Kisah keluarga pertama yang diciptakan oleh Tuhan ini bahkan menjadi kisah pertama yang mengawali sebelum kisah-kisah yang sama terjadi sampai saat ini. Bahkan variasinya semakin lebih banyak terjadi.

Tapi benarkah rancangan ini rancangan awal bagi keluarga yang Tuhan ciptakan bagi ktia? Bagaimana pola berulang yang terus terjadi sampai sekarang? Olehnya perlu kita memahami pengalaman dari keluarga Adam ini.

Pertama, desain dalam keluarga, dalam mewujudkan pro-kreasi menghadirkan manusia-manusia Allah di dunia, lewat berkat keturunan, penting terjadinya sebuah  hubungan intim antara suami dan istri. Bahkan ini menjadi kalimat pembuka di Kejadian 4, bahkan sampai tiga kali tertulis dalam perikop yang sama (ayat 1, ayat 17 dan ayat 24). Ingat hubungan ini hanya bagi mereka yang sudah diberkati Tuhan menjadi satu keluarga.

Kedua, adanya penyembahan dan persembahan dalam keluarga. Seakan tiada peneladanan pemberian korban bakaran di hadapan Tuhan yang seharusnya ditunjukkan Adam bagi kedua anaknya, Kain dan Habel, pintu dosa pertama akhirnya terbuka. Hati panas, muka muram ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Kain, hingga Tuhan-pun sempat turun menyampaikan firman Tuhan secara langsung kepadanya. Sebelum ia bertindak melakukan dosa.

Tapi kain tidak mengindahkan Firman Tuhan yang dinyatakan secara langsung kepadanya. Lebih memilih untuk mengeksekusi adiknya dibandingkan mendengarkan Firman Tuhan. Seandainya ada peneladanan dari Adam bagaimana memberi persembahan dan penyembahan yang benar kepada Tuhan, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi.

Ketiga, bekerja dengan sepenuh hati dan tidak penuh dengan drama, meskipun dalam sebuah kondisi pelarian. Seperti yang ditunjukkan oleh Keluarga dan keturunan Kain yang melahirkan generasi-generasi hebat. Yakni : Yabal, bapa orang yang diam di dalam kemah dan memelihara ternak; Yubal menjadi Bapa semua semua orang yang memainkan kecapi dan suling dan Tubal-Kain menjadi Bapa semua tukang tembaga dan tukang besi.

Kembali kepada kondisi Kain yang sudah diingatkan oleh Tuhan, sebenarnya Tuhan tidak menginginkan Kain melakukan tindakan keji tersebut kepada adiknya. Tapi kembali lagi manusia itu punya kehendak bebas yang diberikan oleh Allah sendiri. Sehingga dengan kehendak bebas itu, kita sejatinya bukanlah robot, melainkan sebuah mahluk yang mulia melebihi segala ciptaan-Nya yang lain di dunia.

Dan seandainya juga, jika terjadi perbuatan dosa, Tuhan punya cara unik untuk mengembalikan manusia itu kembali ke jalan-jalan yang sudah ditetapkannya. Seperti lahirnya kembali Enos sebagai pengganti dari Habel yang sudah dibunuh oleh Kain-kakaknya. Dimana dengan lahirnya Enos, tercatat sebagai penghujung nats di Pasal 4 ini, waktu itu lah orang mulai memanggil nama Tuhan. Nama Tuhan tetap ditinggikan atas dunia kita yang sudah cemar dan penuh dengan dosa.

Masihkah kita menjadi orang yang keras seperti Kain, sekalipun Firman Tuhan sudah datang kepadanya, dan mengingatkan untuk tidak panas hati dan  muka muram?

Lopait, 13 Januari 2026

Yehuda dan Tamar - Kejadian 38

  Kejadian 38 Dua sikap yang kontras dari anak Yakub yang dibahas secara khusus dalam perikop Kejadian 38 dan Kejadian 39, yakni antara Ye...