Belajar dari Keluarga Pertama, Adam - Kejadian 4

 

Kejadian 4


Kisah dalam Kejadian 4 bukanlah sebuah drama, tapi sebuah fakta atau benar terjadi dan mungkin terjadi hingga sekarang. Bagaimana pembunuhan itu terjadi, bukan dengan orang yang jauh, bahkan orang yang sangat dekat sekalipun?  Kisah keluarga pertama yang diciptakan oleh Tuhan ini bahkan menjadi kisah pertama yang mengawali sebelum kisah-kisah yang sama terjadi sampai saat ini. Bahkan variasinya semakin lebih banyak terjadi.

Tapi benarkah rancangan ini rancangan awal bagi keluarga yang Tuhan ciptakan bagi ktia? Bagaimana pola berulang yang terus terjadi sampai sekarang? Olehnya perlu kita memahami pengalaman dari keluarga Adam ini.

Pertama, desain dalam keluarga, dalam mewujudkan pro-kreasi menghadirkan manusia-manusia Allah di dunia, lewat berkat keturunan, penting terjadinya sebuah  hubungan intim antara suami dan istri. Bahkan ini menjadi kalimat pembuka di Kejadian 4, bahkan sampai tiga kali tertulis dalam perikop yang sama (ayat 1, ayat 17 dan ayat 24). Ingat hubungan ini hanya bagi mereka yang sudah diberkati Tuhan menjadi satu keluarga.

Kedua, adanya penyembahan dan persembahan dalam keluarga. Seakan tiada peneladanan pemberian korban bakaran di hadapan Tuhan yang seharusnya ditunjukkan Adam bagi kedua anaknya, Kain dan Habel, pintu dosa pertama akhirnya terbuka. Hati panas, muka muram ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Kain, hingga Tuhan-pun sempat turun menyampaikan firman Tuhan secara langsung kepadanya. Sebelum ia bertindak melakukan dosa.

Tapi kain tidak mengindahkan Firman Tuhan yang dinyatakan secara langsung kepadanya. Lebih memilih untuk mengeksekusi adiknya dibandingkan mendengarkan Firman Tuhan. Seandainya ada peneladanan dari Adam bagaimana memberi persembahan dan penyembahan yang benar kepada Tuhan, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi.

Ketiga, bekerja dengan sepenuh hati dan tidak penuh dengan drama, meskipun dalam sebuah kondisi pelarian. Seperti yang ditunjukkan oleh Keluarga dan keturunan Kain yang melahirkan generasi-generasi hebat. Yakni : Yabal, bapa orang yang diam di dalam kemah dan memelihara ternak; Yubal menjadi Bapa semua semua orang yang memainkan kecapi dan suling dan Tubal-Kain menjadi Bapa semua tukang tembaga dan tukang besi.

Kembali kepada kondisi Kain yang sudah diingatkan oleh Tuhan, sebenarnya Tuhan tidak menginginkan Kain melakukan tindakan keji tersebut kepada adiknya. Tapi kembali lagi manusia itu punya kehendak bebas yang diberikan oleh Allah sendiri. Sehingga dengan kehendak bebas itu, kita sejatinya bukanlah robot, melainkan sebuah mahluk yang mulia melebihi segala ciptaan-Nya yang lain di dunia.

Dan seandainya juga, jika terjadi perbuatan dosa, Tuhan punya cara unik untuk mengembalikan manusia itu kembali ke jalan-jalan yang sudah ditetapkannya. Seperti lahirnya kembali Enos sebagai pengganti dari Habel yang sudah dibunuh oleh Kain-kakaknya. Dimana dengan lahirnya Enos, tercatat sebagai penghujung nats di Pasal 4 ini, waktu itu lah orang mulai memanggil nama Tuhan. Nama Tuhan tetap ditinggikan atas dunia kita yang sudah cemar dan penuh dengan dosa.

Masihkah kita menjadi orang yang keras seperti Kain, sekalipun Firman Tuhan sudah datang kepadanya, dan mengingatkan untuk tidak panas hati dan  muka muram?

Lopait, 13 Januari 2026

Komentar