Selama Bumi Masih Ada - Kejadian 8

 

Kejadian 8

Total lamanya bencana air bah yang terjadi kurang lebih setahun. Mulai dari air naik sampai masa puncaknya kurang lebih 150 hari. Kemudian semakin berkurang, surut dan akhirnya Nuh keluar dari bahtera kurang lebih 150-an hari juga. Tercatat dalam Kej.7: 6, Nuh berumur 600 tahun ketika air bah datang.

Puncak-puncak mulai tampak ketika masuk bulan ke-10, membuka tingkap bahtera di bulan ke 11 dan 12. Mencari tanda-tanda apakah seluruh bumi mulai kering Nuh menunggu hingga 21 hari lagi. Dengan menerbangkan gagak dan merpati. Karena burung gagak pulang pergi setelah dilepas, Nuh sulit memperkirakan apakah bumi telah surut benar, dia mengirim merpati. 

Tepat pada tahun ke-601, bulan pertama, tanggal satu  air mulai kering. Keluar dari bahtera setelah di bulan kedua, hari ke-27, setelah Tuhan berfirman. Apa artinya dua kejadian tersebut? Pertama untuk menyiapkan perbekalan makanan selama kurang lebih setahun baik untuk keluarganya maupun bagi seluruh binatang, persiapan Nuh tidak sembarang. Dia butuh manajemen tempat makanan dan waktu-waktu pemberian yang terbaik supaya makanan yang diberikan tetap fresh atau segar.

Bagaimana dengan kita, apakah kita siap, jika sesuatu terjadi selama setahun kedepan? Jika tidak ada makanan atau minuman karena situasi perang atau apapun itu, apakah bisa tetap kita bertahan?

Disamping itu, dalam menentukan bagaimana dan kapan ia keluar, Nuh tidak melulu menunggu bagaimana suara Tuhan datang kepadanya. Ia gunakan akal dan pikirannya untuk mengecek terlebih dahulu bagaimana dan apa yang terjadi diluar? Suara Tuhan jadi konfirmasi akhir setelah penyelidikannya lewat burung gagak atau burung merpati. Bagaimana dengan kita, apakah kita hanya sebatas nge-roh saja tanpa menggunakan akal budi yang juga Tuhan sudah buat bagi kita?

Kemudian tema renungan kali ini saya langsung ambil dari ayat penutup di Kejadian 8 yang berbunyi :  Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.

Waktu akan terus berjalan sesuai dengan rencana dan kairos-nya Tuhan. Sejak awal penciptaan hingga akhirnya. Perlunya perencanaan yang matang seperti Nuh bagaimana mengelola sumber daya yang ia miliki saat sebelum, sedang dan sesudah air bah? Untuk perencanaan tersebut kita butuh yang nama akal budi dan pikiran yang baik, dan semuanya itu datangnya dari Tuhan.

Melatih akal budi dan pikiran senantiasa dengan terus connect atau terhubung dengan Tuhan kemudian menjadi tidak serupa dengan dunia dengan segala kegerlapannya adalah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan juga.  

Janji Tuhan ini sangatlah powerful, selama bumi masih ada, musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam, akan selalu berganti setiap hari. Apakah kita sudah seperti Nuh berpikir, bersikap, bertindak? Apakah kita sudah menjadi rekan kerja Allah di dunia ini untuk menjadi terang dan garam?                                                                                Lopait, 26 Januari 2026              

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Allah Sang Pencipta Kita Lewat Ciptaannya- Kejadian 1

Kejatuhan Manusia - Kejadian 3

Belajar dari Keluarga Pertama, Adam - Kejadian 4