Abraham dan Abimelekh- Pengulangan Kesalahan yang Sama - Kejadian 20
Kisah perikop di
Kejadian 20 ternyata mengulangi kesalahan atau pola yang sama persis ketika
Abraham di perikop Kejadian 12, saat Abraham memilih pindah ke Mesir untuk
bertahan karena hampir seluruh wilayah di dunia kelaparan. Bahkan kalau kita
telusuri lagi ke depan, yakni anaknya Abraham, Ishak juga mengulangi pola yang
sama. Sehingga total ada 3 kali peristiwa yang sama di dua generasi yang
berbeda (Kej 12:13; Kej. 20 : 2 & Kej 26:7).
Ancaman takut
dibunuh karena kecantikan Istri menjadi titik persoalan tersebut. Memang tidak
sepenuhnya salah, tentang alasannya dengan menyebutkan dia saudaraku. Tapi
menjadi salah karena seakan ingin menyelamatkan diri sendiri, dan mengorbankan
orang lain. Seakan menjadi sosok pengecut, tidak berani mengambil resiko.
Menjadi salah juga,
karena jika Tuhan tidak intervensi untuk menolong, datang ke mimpi si Raja
Gerar atau Filistin tersebut, tentu akan merusak jalur keturunan Abraham yang
sudah dijanjikan akan menghasilkan
generasi atau keturunan penyelamat dunia, yakni Kristus Yesus.
Meskipun dalam
realita yang terjadi dimuat di Matius 1, Silsilah Yesus Kristus sampai ke
Abraham total ada 42 generasi, ada 4 kali peristiwa sumbang, tercela atau tidak
murni. Dari Yehuda memperanakkan Peres dari menantunya sendiri, Tamar. Salmon
memperanakkan Boas dari Rahab si Pelacur. Boas memperanakkan Obed dari Rut si
Bangsa Kafir. Terakhir Daud memperanakkan Salomo dari istri Uria yang dibunuh
Daud.
Kembali ke kisah
Abraham di Tanah Gerar atau orang Falistin, Tuhan tidak mengijinkan Abimelekh
merusak Sara istrinya. Meskipun dengan ketulusan Abimelekh untuk
memperistrinya. Tuhan tidak setuju bahkan sudah menghukum seluruh orang yang
ada istana nya khususnya para perempuan dewasa
tidak akan ada orang yang bisa melahirkan atau dibuat mandul (Kej 20:18). Tapi
karena Abimelek dengar-dengaran dengan Firman Tuhan yang datang padanya pada
malam harinya lewat sebuah mimpi, kutukan perempuan di Gerar menjadi mandul dicabut setelah Abraham berdoa
kepada Allah.
Apa makna kisah
dari perikop ini? Pertama, Kecenderungan berbuat salah pasti akan tetap terjadi
di antara generasi yang satu ke generasi yang lain. Jika tidak melakukan
evaluasi perbaikan maka kesalahan itu pasti akan terulang. Olehnya untuk
memutus rantai kesalahan yang sama, alangkah bijaknya untuk kita melakukan
evaluasi dan perbaikan sedini mungkin. Sebab tentu tidak bijak jika
terus-menerus melakukan kesalahan yang sama dan jatuh di lobang yang sama pula.
Orang sekelas Abraham saja-pun jatuh dua kali di masa hidupnya melakukan
kesalahan yang sama di Mesir dan di Gerar, bagaimana dengan kita? Olehnya mari
evaluasi.
Kedua, hati nurani
yang murni dan tangan yang suci tidak cukup untuk melakukan sesuatu atau
mengambil keputusan tertentu. Kita butuh data yang lengkap dan menyeluruh untuk
bisa mengambil keputusan apa yang tepat dan berdampak bagi kita. Jangan seperti
pernyataan Abimelekh memutuskan mengambil istrinya Abraham, meski dengan hati
yang murni, tetap salah di mata Tuhan, karena dia tidak kroscek ulang secara
lengkap tentang siapa Sara sesungguhnya. Dampaknya Tuhan-pun langsung hukum dia
bahkan seluruh perempuan di istananya kena hukuman yang sama.
Lopait, 21 Februari
2026

Komentar
Posting Komentar