Harga Panggilan Abram - Kejadian 12
![]() |
| Kejadiana 12 |
Umur 75 tahun tentu
tidak lagi usia muda bagi seseorang untuk pergi mengerjakan sebuah panggilan
yang mulia dari Allah. Tapi Abram tetap dipanggil untuk melaksanakan misi
tersebut. Itu setelah mendapatkan sebuah perintah yang jelas dari Tuhan sendiri
kepadanya. Menjadi permulaan di perikop ini.
Perintah Tuhan
jelas, Pergi meninggalkan negerinya ke tanah Kanaan yang akan ditunjukkan Tuhan
kepadanya. Belum jelas kemana tapi arahnya sudah jelas. Ini menjadi perjalanan
kedua bagi Abram sendiri. Setelah papanya juga melakukan perpindahan dari Ur
Kasdim atau Mesopotamia (Kis 7:2-3) ke tanah kanaan Papanya, yaitu Haran. Kali
ini dia bersama istri dan keponakannya Lot dibawa serta dalam perjalanan menuju
Kanaan.
Janji Tuhan juga
sangat jelas kepada Abram. Yakni menjadi bangsa yang besar, namanya akan masyhur, dan senantiasa diberkati Tuhan.
Khusus janji berkat sangat spesifik disampaikan, siapa yang memberkati Abram
akan mendapatkan balasan berkat, tapi sebaliknya siapa yang mengutuk akan dapat
kutuk.
Berkat yang paling
utama adalah oleh karena Abram semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Berkat ini ternyata dalam ayat Gal 3:16 disebutkan Adapun kepada Abraham
diucapkan segala janji itu kepada keturunannya. Tidak dikatakan “Kepada
keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu
orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus.
Terlepas dari
panggilan yang khusus kepada Abraham bahkan janji Tuhan yang sudah disampaikan,
masalah tentu tak lepas. Mulai dari masalah mendapatkan berkat keturunan,
karena istrinya di dapatkan mandul, tidak akan punya anak (Kej.11: 30).
Kemudian kecantikan dari istrinya sendiri juga masalah bagi Abram.
Dimana karena
kelaparan hebat terjadi di tanah Kanaan-nya Abram, jangan bilang di tanah
Kanaan (tanah yang dijanjikan Tuhan) tidak akan pernah lapar. Hasil pertanian
yang diolah gagal dan kelaparan hebat terjadi. Ini juga bagian dari masalah.
Abram memutuskan untuk mengungsi ke Mesir. Untuk menyelamatkan nyawanya, karena
kecantikan istrinya, sampai tega menyebut istrinya adalah saudaranya, meskipun
tidak sepenuhnya salah juga pernyataannya.
Apa yang ditakutkan
Abram-pun terjadi, penguasa tertinggi Mesir, Firaun sendiri yang hendak
mengambil istrinya Abram. Bersyukurnya Tuhan membela untuk persoalan istri
Abram yang diambil. Karena memang akan mengganggu jalannya rencana keselamatan
lewat keturunan Abram bersama Sarai istrinya.
Segala sesuatu yang
menghadang atau menggagalkan rencana Tuhan terjadi dalam hidup kita, tentu
Tuhan yang akan bela. Persoalan kelaparan, seakan Tuhan biarkan untuk melatih
bagaimana Abram tetap bertahan di tengah situasi tersebut, dan apa keputusan
yang akan diambilnya. Untuk persoalan mandulnya istrinya, juga Tuhan seakan
sengaja untuk melatih kembali Abram, bagaimana Iman dan percayanya saja kepada
Tuhan.
Itu harga yang
Abram pikul dalam menjalankan panggilannya di perikop Kejadian 12. Bagaimana
dengan kita? Sudahkah kita mengerjakan Panggilan sesungguhnya yang sebenarnya
Tuhan sudah taruh di depan mata kita, tapi kita enggan untuk pergi dan
melangkah? Kemudian, saat menjalankan panggilan tersebut, sudah siapkah kita
bayar harga untuk mengerjakan panggilan tersebut, atau malah kita ternyata
pelan-pelan ingin mundur. Akankah kita seperti itu?
Lopait, 6 Februari
2026

Komentar
Posting Komentar