Manusia Babel Vs Keturunan Sem sampai Abraham - Kejadian 11

 

Kejadian 11

Saat kesatuan menghalangi rencana Tuhan untuk memenuhi bumi (Kej 1: 28), Tuhan bertindak sendiri dan langsung turun ke bumi. Niatan manusia dalam peristiwa Babel, yang memang saat itu seluruh bumi hanya memiliki satu bahasa dan satu logat, manusia tidak ingin menyebar kemana-mana. Sehingga berupaya mendirikan sebuah menara yang sanggup menampung mereka.

Sekalipun menara itu hingga menjulang ke langit, manusia ternyata mampu merealisasikannya. Itulah kekuatan manusia, bahkan Tuhan sampai mengeluarkan firman, ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Artinya Tuhan-pun ternyata mendukung setiap perencanaan-perencanaan manusia. Tapi ingat jika perencanaan itu bertentangan dengan maksud dan rancangan awal Tuhan, pastikan perencanaan itu akan gagal di ujungnya.

Ketika satu bahasa menjadi penghalang, manusia tidak akan memenuhi bumi, Tuhan-pun bertindak dengan memberikan berbagai macam bahasa dan logat (Kej 7:7). Akhirnya mau tidak mau, mereka-pun berkumpul mereka yang bisa mengerti bahasa satu dengan yang lain, dan pergi ke belahan bumi yang lain untuk bisa berkumpul menjadi satu bangsa tersendiri (Kej 7:8).

Kontras antara Nimrod sebagai founder menara Babel, yang merupakan keturunan Ham, dengan Peleg, dari keturunan Sam dalam Kejadian 11. Sebab Alkitab mencatat masa Peleg adalah masa bumi terbagi (Kej 10:25; 1 Taw 1:19). Bumi terbagi, mereka yang menyatu dalam menara Babel sendiri dengan keturunan Sem sendiri.  Untuk peristiwa Babel hanya 9 ayat, sisanya membahas tentang keturunan Sem hingga akhirnya mendapat satu nama, yakni Abram atau Abraham.

Dari Sem sampai Abram total ada sepuluh generasi. Diurutkan, Sem (2 tahun setelah air bah), Arpakhsad-35 tahun, Selah-30 tahun, Eber-34 tahun, Peleg-30 tahun, Rehu-32 tahun, Serug-30 tahun, Nahor-29 tahun, Terah-70 tahun, Abram lahir. Jika menghitung tahunnya, untuk mendapatkan Abram atau Abraham ada sebanyak 385 tahun. Artinya dari peristiwa air bah sampai Abraham lahir ada masa 285 tahun, menurut versi Kejadian 11.

Terah-pun membawa Abram, anaknya  dan istri Abram, Sarai, serta Lot cucunya pergi keluar dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan. Mereka sampai ke Haran dan menetap disana, serta Terah-pun mati di Haran pada usia 205 tahun. Sementara anak Terah yang lainnya, Nahor tetap berada di Ur-Kasdim. Tercatat Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak (Kej 11:30).

Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah dalam Kejadian 11 ini? Pertama dari kisah Nimrod yakni menara Babel,  setiap perencanaan yang tidak dari Tuhan, apalagi sampai menghalangi maksud Tuhan akan bumi, bisa dipastikan rencana itu tidak akan berhasil di ujungnya. Meskipun awalnya tampak berhasil, setelah Menara Babel berdiri, Tuhan punya cara sendiri untuk mereka berserak dan pergi ke tempat lain, dengan bahasa dan logat yang bermacam-macam. Jadi libatkan Tuhan dalam perencanaan kita dan pastikan rencana itu untuk mewujudkan rencana-Nya.

Kedua, untuk mendapatkan Abram atau Abraham yang akan menjadi tokoh sentral dalam iman kita, butuh sepuluh generasi. Waktunya tidak singkat butuh proses. Bahkan bibit masalah-pun sudah ada di awal bagi Abram sendiri , dimana istrinya, Sarai itu mandul, tidak bakal punya anak dikemudian hari. Artinya, Tuhan selalu memproses kita lewat masalah-masalah yang ada. Kita hanya butuh bertahan dan tanya Tuhan untuk itu semua. Sudahkan kita bergantung padaNya?

Lopait, 3 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Allah Sang Pencipta Kita Lewat Ciptaannya- Kejadian 1

Kejatuhan Manusia - Kejadian 3

Belajar dari Keluarga Pertama, Adam - Kejadian 4