Senin, 22 Juni 2026

Yusuf, Firaun dan Bencana Kelaparan - Kejadian 41

 

Kejadian 41


Dua tahun bukan waktu yang singkat bagi Yusuf saat dia ada dalam penjara. Tapi itu waktu yang pas bagi Yusuf untuk bisa bertemu dengan Firaun. Sang juru minum raja yang sempat ia ketemu waktu dalam penjara akhirnya menyampaikan bahwa ada satu orang yang hebat yang mampu menterjemahkan arti mimpi dan menjadi kenyataan.

Di usia 30 tahun, saat Firaun bermimpi dua kali tentang akan adanya bencana kelaparan yang bukan hanya terjadi di Mesir bahkan seluruh dunia juga akan mengalaminya. Butuh orang bijak yang berpengetahuan hebat bagaimana sistem logistik penyimpanan makanan yang terbaik sehingga mampu bertahan hingga lebih dari 14 tahun? Bagaimana melibatkan seluruh kota-kota di Mesir terlibat dalam proyek ini? Kemudian sistem pendistribusian yang akan bisa melayani seluruh permintaan yang bakal datang selama kurang lebih 7 tahun masa kelaparan? Proyek ini tentu bukan penanganan proyek yang bisa dilakukan sambil lalu saja. Yusuf butuh hikmat Tuhan dalam mengelola ini.

Dalam peta perjalanan Yusuf selalu memberi yang terbaik dalam segala hal, bahkan dampak yang diberikan selalu extra ordinary impact. Hal itu dibuktikan dan dirasakan bukan hanya oleh Potifar juga dirasakan oleh Kepala Penjara. Setelah melakukan atau melewati itu semua, yang bahkan memiliki identitas sebagai budak dan menjadi narapidana, tentang tanggung jawabnya dalam proyek pembentukan Tuhan itu, Yusuf selalu setia dan mengerjakannya dengan sukaciita.

Sehingga tidak heran ketika nasihatnya kepada raja Firaun untuk mengatasi persoalan mimpi meskipun baru tahap mimpi, Yusuf tidak main-main. Dimana mimpi raja yang pertama tujuh ekor lembu kurus yang memakan tujuh ekor lembu gemuk. Lanjut dengan yang kedua, tujuh bulir gandum yang kurus dan layu menelan tujuh bulir gandum yang gemuk. Sekalipun sudah memakan atau menelannya tak ada perubahan bentuk lembu kurus maupun bulir gandum tersebut.

Kegelisahan Firaun tentang mimpi itu, dan pengalaman si juru minum raja yang pernah dipenjara bersama dengan Yusuf, akhirnya mempertemukan Yusuf dengan Firaun. Status dan identitasnya yang lama berubah dari tahanan menjadi orang nomor dua tertinggi di Mesir. Yang jadi pembeda antara Firaun dan Yusuf adalah tahtanya Firaun. Selain itu semua sama, bahkan seluruh orang di Mesir, bukan hanya tunduk dan hormat, seluruh pergerakan orang Mesir tidak boleh tanpa sepengetahuannya Yusuf.

Firaun juga memberikan istri, putri seorang imam di On, yakni Asnat, anak Potifera. Kurang lebih selama 7 tahun masa kelimpahan, dua orang anak sudah lahir dipangkuannya Yusuf. Yakni Manasye sebagai anak sulung yang artinya Allah telah membuat aku lupa sama sekali tentang kesukaranku dan kepada rumah bapaku. Kemudian Efraim anak kedua yang artinya, ‘Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku’.

Akhirnya tiba tahun kelaparan, semua orang orang datang kepada Firaun untuk solusinya. Firaun mengatakan silakan datang kepada Yusuf atau Zafnat-Paaneah yang artinya Tuhan bicara dan Tuhan Hidup untuk segala persoalan mereka. Bukan hanya orang Mesir, seluruh dunia datang kepadanya untuk bisa mendapatkan bahan makanan yang sudah habis dimana-mana. Karena tak ada panen lagi.

Apa makna perikop ini bagi kita? Pertama, sabar dalam prosesnya Tuhan, sekalipun identitas kita menjadi budak atau bahkan narapidana, ingat untuk selalu memberi yang terbaik, miliki sikap yang rendah hati serta suka menolong orang lain. Ini cara kita untuk bisa diangkat ke level yang lebih tinggi lagi. Tinggal tunggu waktunya Tuhan saja.

Kedua,  tetap belajar meskipun kita berada di suatu yang sulit. Artinya tidak berdiam diri saja tanpa mengembangkan kapasitas besar yang mungkin sudah Tuhan persiapkan bagi kita sebelumnya. Seperti Yusuf yang secara tidak sengaja akhirnya belajar bagaimana sistem pasok dan sistem distribusi makanan yang ada sehingga semua berjalan dengan sangat baik, tidak ada kekacauan. Karena bisa dipastikan orang lapar akan sulit diajak berpikir dan tertib. Sistem yang dibuat Yusuf memungkinkan semua berjalan dengan sangat baik. Pertanyaannya akankah kita mau seperti Yusuf yang terus belajar dan mengembangkan dirinya?

Lopait, 20 Maret 2026

Yusuf Bertemu Juru Minum dan Juru Roti Raja - Kejadian 40

 

Kejadian 40

Sekalipun dalam penjara, Yusuf masih sempat bertemu dengan orang-orang hebat dari lingkungan istana. Cara Tuhan bukan kurang panjang untuk mempertemukan orang-orang yang akan bakal menolong kita dengan cara nya yang ajaib. Tapi lagi-lagi kita butuh tuntunan Tuhan, jika kesempatan itu datang. Sebab Yesaya sangat jelas menuliskan dalam kitabnya, Yesaya 2:22,”Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Juru minum raja dan juru roti raja sama-sama melakukan kesalahan yang membuat raja Mesir murka, dan memenjarakan mereka dalam penjara bersama dengan Yusuf. Dan pada hari yang sama pula, keduanya sama-sama bermimpi. Mimpi yang hampir sama tetapi beda makna dan realitas dari mimpi-mimpi tersebut.

Kedua juru tersebut, tampak muram mukanya, sehingga Yusuf yang memperhatikan perubahan muka tersebut bertanya apakah gerangan yang terjadi? (Kejadian 40:7). Juru minum-pun mulai cerita apa yang jadi mimpinya, tampak  ada pohon anggur dan tiga carangnya yang baru bertunas dan penuh buah. Sehingga sang juru minum ambil piala Firaun dan menyampaikannya kemudian kepada sang raja.

Mimpinya sangat baik, dan Yusuf menyampaikan makna dari mimpi tersebut. Dan benar sesuai kenyataan apa yang disampaikan oleh Yusuf kepadanya, bahwa dia akan kembali ke tugas semula, menjadi juru minum raja.

Sementara sang juru roti, juga kurang lebih sama dengan mimpi sang juru minum, menceritakan mimpinya. Yakni ada 3 bakul yang dibawa sang juru roti tapi ditengah jalan roti-roti itu dimakan burung-burung. Kemudian Yusuf-pun menceritakan maknanya, yakni dalam 3 hari dia akan digantung dan burung-burung akan memakan dagingnya dari tubuhnya,

Untuk sang juru minum ini, Yusuf sangat jelas meminta kepadanya usai dirinya, bebas dan akan bertemu langsung dengan raja Firaun. Yakni supaya sang juru minum itu memperjuangkan kasus yang sedang Yusuf alami saat ini. Tetapi apa yang terjadi? Di akhir perikop ini dituliskan, tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu dan melupakan apa yang pernah Yusuf sampaikan kepadanya.

Apa makna dari perikop ini? Pertama, pentingnya untuk meminta konfirmasi kembali dari Tuhan.  Meskipun tampaknya ada orang yang akan jadi jawaban lewat berkat yang mungkin ia berikan kepada kita. Benarkah berkat itu dari Tuhan atau dari manusia semata? Jika itu peluang dari Tuhan, niscaya kita akan mendapatkannya, bahkan dampaknya bukan hanya kita saja yang menerima, keluarga dan pelayanan atau pekerjaan kita akan semakin diberkatiNya.

Kedua, sesungguhnya Tangan Tuhan bukan kurang panjang untuk menolong kita. Dan jika Tuhan belum menolong sekalipun, ingat Dia sedang menguji kita untuk menghasilkan yang terbaik dari kita dan berkenan kepadanya. Butuh yang namanya kesabaran, tidak terburu-buru, apalagi sampai berupaya menolong Tuhan, dengan cara-cara kita yang sempit dan tentu tidak akan pernah menuntaskan persoalan kita.

Sudahkah kita sabar dan tetap menunggu proses yang dari Tuhan dalam persoalan yang mungkin kita hadapi saat ini?

Lopait, 19 Maret 2026

Yusuf selalu menjadi Orang yang disertai Tuhan - Kejadian 39

 

 

Kejadian 39

Kehidupan Yusuf terus berlanjut, meskipun dijual sama kakak-kakaknya yang awalnya ingin dibunuh, kepada saudagar yang kebetulan lewat. Dan Potifar, kepala pengawal raja membeli Yusuf untuk jadi budak di rumahnya.

Uniknya budak adalah orang yang hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Tapi beda dengan Yusuf. Karena dia orang yang disertai Tuhan dan Tuhan senantiasa membuat segala pekerjaannya berhasil, Potifar-pun langsung mengasihi Yusuf dan  menawarkan tanggung jawab yang lebih besar baginya. Memberikan kuasa dan segala miliknya Potifar dibawah pengendaliannya Yusuf.

Godaan-pun datang dari istri Potifar-pun, Yusuf tetap teguh untuk tidak melakukan perbuatan zinah yang tentu melanggar ketentuan Allah dalam hidupnya. Tidak mau mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh tuannya itu. Ia menolak dan pernyataan Yusuf sangat kuat tentang kepercayaannya itu,

“Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Karena keteguhannya dia akhirnya dipenjara oleh perkataan istri Potifar yang menjebaknya. Dengan pakaian Yusuf yang tertinggal menjadi bukti kebohongan istri Potifar yang menyatakan bahwa Yusuf-lah yang menggoda dia. Padahal tidak, karena berhari-hari istri Potifar mengajak Yusuf tetapi dia tidak mau.

Di penjara-pun, Yusuf menjadi orang yang disayangi oleh kepala penjara, oleh karena Tuhan menyertai Yusuf dan kasih Tuhan melimpah atas Yusuf. Hingga pekerjaan kepala penjara-pun berkurang dan tidak ambil pusing untuk urusan penjara, karena Yusuf bertanggungjawab untuk urusan itu semua. Dan segala pekerjaan Yusuf selalu berhasil meskipun dalam kesulitan dan tidak bebas karena ada dalam penjara.

Apa yang menjadi makna dalam perikop ini? Pertama, miliki kasih yang besar kepada Tuhan dan hati yang penuh taat dihadapanNya selalu. Sekalipun tampaknya situasi yang dihadapi sekarang, berbeda dari kenyataan orang yang diberkati, tetapi dengan kasih yang besar itu dan hati yang penuh ketaatan itu, akan mampu membawa kita ke level yang berbeda tentang berkat yang akan kita terima. Yakni seperti Yusuf mendapatkan kasih dari Potifar dan mendapatkan sayang dari Kepala Penjara.

Kedua, dengan kepercayaan yang kita terima, kita harusnya mampu mengembangkan bakat dan potensi yang kita miliki. Tidak gampang tergoda oleh bujuk rayuan seperti Istri Potifar yang senantiasa menggoda. Tetapi dengan kesungguhan hati bahwa kepercayaan itu mahal harganya, dan kasih yang besar kepada Tuhan dan sesama, membuat kita akan terluput dari godaan untuk melakukan dosa. Niscaya kita akan selalu menjadi orang yang disertai Tuhan.

Penyertaan Tuhan jauh lebih berharga dan lebih besar dari berkat materi. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi orang yang disertai  Tuhan?

Lopait, 18 Maret 2026

Senin, 15 Juni 2026

Yehuda dan Tamar - Kejadian 38

 

Kejadian 38


Dua sikap yang kontras dari anak Yakub yang dibahas secara khusus dalam perikop Kejadian 38 dan Kejadian 39, yakni antara Yehuda dan Yusuf. Yehuda yang jatuh dalam dosa perzinahan meskipun tampak tidak disengaja, sementara Yusuf dalam perikop setelahnya tidak jatuh dalam dosa perzinahan.

Kontras juga antara pilihan para istri yang akan diambil anak-anaknya Yakub, seakan Yakub tidak mewajibkan mengambil istri untuk anak-anaknya dari tanah leluhurnya. Persis seperti Abraham dan Ishak yang mengambil istri dari Padan-Aram. Karena Yakub memang lari dan rumah Laban membawa istri dan anak-anaknya serta harta benda yang dia peroleh dari sana.

Sehingga anak-anak Yakub yang dua belas orang bebas memilih siapapun yang jadi istri mereka masing-masing. Khusus perikop ini, Yehuda yang memilih dari perempuan Kanaan, bertemu saat dia berkunjung ke rumah sahabatnya di Adulam, namanya Hira. Memperistri Syua dan melahirkan tiga orang anak, Er, Onan dan Syela. Tapi sayangnya Er dan Onan adalah anak-anak yang jahat di mata Tuhan, sehingga mereka mati. Seakan Papanya, Yehuda tidak tahu kejahatan kedua anaknya itu, sehingga meminta Tamar menantunya untuk pulang dulu ke rumahnya, sampai Syela besar dan melanjutkan pernikahan ipar.

Sesudah Syela besar, tak kunjung diberikan Syela menjadi suaminya Tamar. Sehingga dia langsung datang ke tempat mertuanya datang, yakni di Timna saat dia hendak menggunting bulu di sana. Hartanya, kambing dan dombanya Yehuda ada di sana di tempat sahabatnya, tidak menyatu dengan harta dan benda kepunyaan papanya.

Yehuda mengira, Tamar adalah perempuan sundal. Sehingga bertepatan saat istrinya, Syua mati, kesepian menginggapi Yehuda dan meminta perempuan yang bertelekung itu menemaninya tidur. Tapi Tamar sebelum melakukan itu, meminta terlebih dahulu apa yang jadi jaminannya, yaitu cap meterai, kalung serta tongkat yang saat itu sedang dipegangnya. Akhirnya dia pulang kembali ke rumah papanya.

Kemudian ketahuan bagi Yehuda, menantunya itu  bersundal dan telah mengandung karenanya. Dia meminta untuk menghadapkannya ke publik untuk diadili. Tapi akhirnya ketahuan bahwa dialah penyebabnya, karena tak kunjung Syela diberikan kepada Tamar untuk melanjutkan pernikahan ipar. Yehuda memilih untuk tidak bersetubuh lagi dengannya, dan Tamar melahirkan dua orang anak kembar. Yakni Peres yang sangat kuat muncul duluan menarik kakaknya, Zerah yang sudah diberi benang kirmizi.

Apa makna dari perikop ini? Pertama, melahirkan anak yang benar tentu sangat sulit jika punya orang tua, salah satunya tidak benar. Dimana Er dan Onan jahat dimata Tuhan sehingga mereka mati dihadapannya. Papanya tidak sadar dengan kejahatan anak-anaknya, karena pilihan siapa pasangan hidupnya. Memang tidak terinci apa yang kejahatannya Er, sementara Onan karena merasa dia bukan pewaris nama keturunan melainkan kakaknya, sehingga dia menyia-nyiakan sumber dayanya. Sehingga pilihlah pasangan hidup yang tepat, baik dan benar dihadapan Tuhan.

Kedua, kasih karunia Tuhan tetap berlaku bagi anak-anaknya, sekalipun tampaknya Yehuda jatuh dalam dosa perzinahan, nama Yehuda tetap diakui sebagai garis keturunannya penyelamat dunia, yaitu Yesus. Anugerahnya besar bagi kita, melebihi dosa-dosa yang saat ini sedang kita miliki. Minta anugerahnya, jika kita tahu salah, dan mohon ampun untuk tidak melakukannya kembali. Jangan menjadi orang yang bebal dan akhirnya tetap mati dalam kesalahan dan dosa tersebut.

Lopait,  17 Maret 2026 

Yusuf dan Mimpinya - Kejadian 37

 

Kejadian 37


Citra anak-anak Yakub yang berjumlah 12 orang itu, dalam alkitab kita tercatat, bagaimana mereka sering berbuat jahat khususnya dalam hal ternak mereka. Tidak sama karakternya dengan Yakub papanya, yang sangat begitu keras bekerja sehingga domba dan kambing serta yang lainnya yang awalnya sangat dikit dimiliki oleh Laban, mertuanya bisa menghasilkan hingga ribuan domba dan kambing. Kurang lebih 14-20 tahun. 14 tahun pertama semua domba dan kambing yang ada masih kepunyaan Laban, baru tahun ke 15 sampai tahun ke-20 baru upah domba dan kambing jadi milik Yakub.

Kontras sikap dan keuletan anak-anak Yakub dibandingkan Yakub sendiri. Satu orang bisa mengerjakan dan menghasilkan banyak hal, sementara 10 anak Yakub yang lainnya tidak bisa menyamai prestasi papanya, bahkan sampai mau berbuat jahat atas ternak mereka. Sehingga Yusuf sering melapor akan kejahatan kakak-kakaknya itu.

Kebencian kakak-kakaknya semakin bertambah saat ada perbedaan sikap oleh Yakub kepada anak-anaknya yang lain dengan memberikan jubah yang maha indah kepada Yusuf. Kemudian  kala mimpi Yusuf yang adalah mimpi yang dari Tuhan, disampaikan ke keluarga besar Yakub. Sebuah mimpi yang akan menggambarkan masa depan Yakub atau Israel di kemudian hari.

Mulai dari mimpi tentang berkas-berkas kakaknya yang sujud menyembah berkasnya Yusuf. Hingga 11 bintang, matahari dan bulan tunduk menyembah Yusuf. Kakak-Kakaknya kian membenci Yusuf, tetapi tentang pernyataan mimpi itu, Yakub menyimpannya dalam hati, meskipun awalnya marah karena mereka harus sujud dihadapan Yusuf. 

Akhirnya reka-reka yang jahat mulai muncul kala kebencian sudah menimpa. Awalnya ingin membunuh Yusuf saat dia datang ke Dotan, dimana mereka sedang menggembalakan semua ternak disana. Sebelumnya ada di Sikhem untuk menggembalakan seluruh ternak. Yusuf  ketemu seorang yang memberikan petunjuk kepadanya dan bertanya dimana kakak-kakaknya?

Rencana berubah daripada membunuh, lebih baik dijual saja supaya dapat keuntungan secara material. Tepat saat saudagar-saudagar Midian lewat, tepatnya Photifar, Yusuf dijual seharga 20 syikal perak. Kemudian untuk menutupi perbuatan mereka, pakaian jubah kebesaran Yusuf diambil dan memercikkan darah domba ke jubah yang dikenakan oleh Yusuf tersebut. Papanya sangat sedih bahkan berharap ingin langsung turun ke dunia orang mati, karena kesedihan atas kepergian anaknya itu.

Apa yang dapat kita pelajari dari perikop ini? Pertama, hal-hal yang baik yang dilakukan oleh generasi pendahulu, hendaknya kita bisa lakukan. Bahkan effort atau usahanya berlipat untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tidak mudah atau pantang menyerah sebelum berhasil mengembangkan sesuatu yang baik dari pendahulu kita tersebut. Apalagi jika masing-masing personel anak Yakub mampu meniru sikap ayahnya yang ulet, sudah tentu mereka tidak akan punya pikiran untuk berbuat jahat. Karena pikiran mereka bagaimana untuk mengembangkan ternak yang sudah ada bisa 10 kali bahkan 20 kali lipat.

Kedua, berani bermimpi apalagi jika itu mimpi yang Tuhan titipkan dalam hidup kita. Perkatakan dan nyatakan meskipun akhirnya dibenci atau dijauhi bukan jadi persoalan. Kita tetap fokus untuk menyelesaikan mimpi yang dari Tuhan. Meskipun prosesnya memang tidak mudah, asal kita berani bayar harga, niscaya mimpi itu akan berhasil.

Lopait, 14 Maret 2026

Belajar dari Keturunan Esau - Kejadian 36

 

Kejadian 36


Sangat unik perikop dalam kitab Kejadian 36, yang hanya menggambarkan secara jelas dan rinci bagaimana keturunan Esau, kakak tertua dari Yakub. Esau yang akhirnya pindah dari tanah Kanaan di Hebron menuju pegunungan Seir yang kemudian berubah nama jadi Edom oleh karena Esau tinggal dan menetap disana.

Dia sadar dan mengerti, setelah papanya, Ishak meninggal dan dikuburkan, bahwa warisannya bukan di tanah Kanaan melainkan di tanah atau pegunungan Seir. Esau membawa istri, anak-anaknya, serta ternaknya semua yang ada di tanah Kanaan pergi ke Seir. Sebab harta mereka kalau digabungkan dengan kepunyaan Yakub tidak mencukupi untuk tinggal bersama (Kejadian 36: 5-8).

Meskipun ada perbedaan nama istri-istri Esau yang tercatat dalam perikop ini dengan nama Istri Esau di Kejadian 26, tapi mereka masih orang yang sama. Sebab menurut sejarah orang zaman dulu, kebiasaan mengubah nama menjadi suatu hal yang biasa jika pindah ke suatu tempat yang berbeda. Versi Kejadian 26, 2 istri pertama, Esau bernama Yudit (anak Beeri orang Het) dan Basmat, anak Elon orang Het. Kemudian bertambah satu lagi di Kejadian 28, Mahalat, anak Ismail, adik Nebayot.

Versi Kejadian 36, Ada, Anak Elon orang Het; Oholibama, Anak Ana, anak Zibeon orang Hewi, dan Basmat, anak Ismail, adik Nebayot. Sehingga perubahan nama dari Yudit menjadi Ada, Basmat menjadi Oholibama, dan Mahalat menjadi Basmat. Perubahan nama terjadi karena sudah ada di Seir atau Edom.

Total anak Esau dari ketiga istrinya itu berdasarkan perikop ini, yakni sebanyak 5 orang saja, yakni Elifas (dari Ada), Yeush, Yaelam dan Korah (dari Oholibama) dan Rehuel dari Basmat. Sementara cucunya Esau ada 10 tercatat. Dari Elifas  sebanyak 6 cucu yakni Teman, Omar, Zefo, Gaetam, Kenas dan Amalek. Dari Rehuel ada 4 cucu yakni Nahat, Zerah, Syama dan Miza.

Sebelum terjadi perpaduan keturunan antara Esau dengan keturunan Seir, alkitab kita juga sangat jelas menggambarkan anak-anak Seir (Kejadian 36:20-30). Ada 7 anaknya yakni Lotan, Syobal, Zibeon, Ana, Disyon, Ezer dan Disyan. Sementara cucunya Seir ada 21 anak. Cucu terbanyak dari Syobal ada 5 cucu, yakni Alwan, Manahat, Ebal, Syefo dan Onam. Dan yang diambil oleh Esau yaitu Oholibama.

Dari keturunan Seir juga ada penemu sumber mata air panas, yakni Ana, anak Zibeon. Saat dia menggembalakan ternak ayahnya itu. Padahal di padang gurun, tapi ada sumber mata air panas. Untuk yang menjadi raja di Edom sebelum dari keturunan Esau memimpin ada 8 raja yang memimpin. Kemudian dilanjutkan keturunan Esau ada 11 keturunan raja yang memimpin di Edom.

Apa makna dari perikop ini yang membagi tiga bagian besar pembahasannya, yakni membahas keturunan Esau, keturunan Seir dan Raja-Raja Edom? Pertama,  seharusnya kita punya identitas baru saat kita ada di dalam Kristus, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang. Sehingga jebakan Iblis tidak mengenai kita lagi karena kita punya identitas baru sebagai anak Allah, yang memegang mandat tertinggi darinya untuk menjadi berkat bagi banyak bangsa. Kurang lebih sama dengan identitas baru dari 3 istri Esau yang tertolak oleh mertuanya, Ishak dan Ribka saat tinggal di Kanaan.

Kedua, penggenapan janji Allah pasti terjadi, bahwa semua keturunan Abraham akan menjadi raja-raja dari berbagai bangsa. Salah satunya melalui keturunan Esau yang akhirnya menjadi raja yang memimpin Edom di pegunungan Seir hingga ke generasi ke-11 dalam perikop tersebut. Olehnya jangan ragu jika kita sudah dapatkan Janji Allah dalam hidup kita. Bahkan di tengah-tengahnya, kita-pun akan mampu, menemukan sumber-sumber mata air panas yang baru, seperti Ana yang menemukannya saat menggembalakan ternak kepunyaan ayahnya. Sumber mata air panas yang akan mampu menghangatkan jiwa yang mulai dingin dan kaku di hadapan Allah.

Lopait, 13 Maret 2026

Sabtu, 13 Juni 2026

Panggilan Ibadah di Betel & 3 Kematian Orang terdekat Yakub - Kejadian 35

 

Kejadian 35


Usai pembalasan oleh Simon dan Lewi di tanah Sikhem karena perkosaan yang dilakukan oleh pangeran Sikhem kepada adiknya, tentu daerah itu sudah tak aman lagi untuk didiami. Yakub memilih untuk berpindah lagi. Kali ini sebelum ke Efrata atau Betlehem, Yakub dapat perintah dari Tuhan untuk pergi ke Betel.

Yakub meminta dengan sangat kepada seluruh anggota keluarganya, sebelum ke Betel untuk beribadah disana, supaya mereka menyerahkan dewa-dewa asing baik yang melekat di badan mereka maupun yang mereka simpan. Hasilnya kedasyatan yang dari Allah hinggap kepada anak-anak Israel, sehingga tak ada satu orangpun berani mengejar mereka saat mereka hendak ke Bethel (Kejadian 35: 5). Seharusnya mereka dikejar oleh bangsa-bangsa asing, khususnya Sikhem atau bangsa lain yang bertalian dengan Sikhem, usai mereka dimusnahkan oleh anak-anak Yakub.

Setibanya di Bethel, Yakub mendirikan mezbah tempat dimana ia pertama kali ketemu dengan Tuhan. Dia dan semua anak-anaknya datang menyembah Tuhan disana. Tuhan kembali menyampaikan janjinya kepada Yakub atau Israel, bahwa melalui keturunannya akan muncul bangsa-bangsa dan para raja. Nama Yakub juga diganti menjadi Israel untuk kedua kalinya Tuhan sampaikan. Di Bethel juga terjadi, pengasuh Ribka mamanya, Debora meninggal disana sehingga dia dikuburkan di sebelah hilir Betel.

Total ada tiga kematian dalam keluarga Yakub, termasuk istrinya, Rahel juga meninggal saat hendak keluar dari Betel dan menuju Efrata atau Yerusalem. Dia meninggal pada saat melahirkan Benyamin, adiknya Yusuf. Dia dikuburkan di Betlehem bukan di kuburan yang ada di Hebron, tempat penguburan keluarga besar Abraham. Kematian Rahel juga tentu ada kaitannya dengan kutuk yang pernah Yakub sampaikan tentang perkara terafim dewa papanya, Laban yang ia curi (Kejadian 31: 32). Rahel tidak umur panjang.

Di Efrata juga terjadi perbuatan sumbang yang dilakukan oleh Ruben anak pertamanya Yakub. Dia meniduri istri papanya dari budaknya Rahel. Tentang perbuatan Ruben ini, meskipun tidak kelihatan marahnya Yakub kepadanya dalam perikop ini, tetapi hukuman yang dijatuhkan oleh Yakub kepadanya, dia tidak jadi yang terutama lagi dalam keluarganya, dan posisi anak sulungnya digantikan ke anak yang lain.

Kematian ketiga adalah kematian papanya, Ishak di Hebron. Yakub memutuskan untuk datang ke Hebron dan meninggalkan Efrata. Usianya Ishak 180 tahun, Yakub dan Esau kakaknya datang untuk menguburkan dia di tanah pekuburan yang telah dibeli kakeknya, Abraham.

Apa makna dalam perikop ini? Pertama, pentingnya menjaga diri kita tetap kudus dihadapan Allah dengan meninggalkan segala berhala-berhala yang mungkin kita pegang saat ini. Apa yang jadi berhala yang sedang menghalangi kita? Apakah harta, jabatan, atau hobby atau bahkan pelayanan kita yang sedang kita kerjakan saat ini? Dimana olehnya kita justru mengandalkan diri kita bukan mengandalkan Tuhan? Pentingnya menjaga kekudusan, akan membuat kita menjadi kegentaran bagi Iblis, sehingga dia tidak akan berdaya menjatuhkan kita. Persis kegentaran yang terjadi kepada Yakub dan anak-anaknya, sehingga bangsa-bangsa asing tidak berani menyerang mereka.

Kedua, kematian pasti tidak bisa dihindari, sebab semua orang yang hidup pasti akan meninggal. Di ujung kematian itu, apakah sudah memastikan bahwa hidup kita sudah benar dihadapan Nya? Jika belum benar dan belum bertobat, hati-hatilah karena akan ada kematian kedua, yakni kematian yang kekal atau kematian jiwa kita, karena bisa dipastikan kita tidak akan ada berada disisinya Tuhan Allah kita.

Lopait, 12 Maret 2026

Anak Perempuan Yakub, Dina Kejadian 34

 

Kejadian 34


Dina lahir dari istri Yakub yang bernama Lea. Setelah melahirkan 6 orang anak, Dina adalah anak ketujuh dan satu-satunya anak perempuan yang dilahirkan bagi Yakub. Tentu Dina menjadi perempuan yang sangat elok rupanya, hingga membuat anak raja, yang bernama Sikhem melakukan perbuatan sumbang kepadanya. Memperkosanya tapi uniknya hatinya malah terpaut dengan Dina dan hendak menikahinya.

Dia meminta dengan sangat baik kepada ayahnya sendiri supaya ngomong langsung dengan Yakub tentang perbuatannya kepada Dina. Sikhem juga berani menyampaikan maksudnya sendiri di hadapan Yakub serta abang dan kakaknya Dina secara langsung. Dimana awalnya antara para ayah yang bicara, karena memang saat ayahnya Sikhem atau Hemor datang, kakak-kakak Dina sudah pergi ke ladang untuk memelihara kambing domba. 12 anak Yakub tidak mendengar secara langsung bagaimana perlakuannya Sikhem kepada adiknya itu.

Saat mendengar secara lengkap hati mereka hancur, khususnya Simon dan Lewi, anak kedua dan ketiga dari Lea, Ibunya. Meskipun Sikhem mau bayar uang mahar sebanyak apapun diminta oleh Yakub dan keluarganya, niscaya Papanya, Hemor akan mampu membayarnya.

Tapi tidak dengan Simeon dan Lewi, sehingga mengatur siasat bagaimana membalaskan kejahatannya Sikhem kepada adiknya? Terpikirkan satu cara agar bisa mengalahkan mereka. meskipun  dengan jumlah yang sangat sedikit tapi bisa mengalahkan jumlah pasukan yang besar. Yakni dengan meminta mereka ikut disunat semuanya. Bukan hanya Sikhem dan papanya, seluruh penduduknya juga harus disunat. Dengan tujuan supaya bisa saling kawin silang antara orang Sikhem dengan keturunan Yakub atau Israel.

Uniknya seluruh penduduk orang Sikhem menyetujui syarat yang disampaikan oleh keturunan Yakub kepada mereka. Dan tepat di hari ketiga saat mereka semua sedang kesakitan, Simeon dan Lewi langsung bergerak cepat untuk membalaskan kebencian yang ada dalam hati mereka kepada seluruh penduduk Sikhem. Bukan hanya raja dan anaknya yang kena, semua orang di bangsa itu kena dan dibinasakan sama Simeon dan Lewi. Bukan hanya dibunuh, merampas semua harta benda kepunyaan mereka juga.

Tentang hal itu, Yakub sampai sangat marah kepada dua puteranya itu saat itu. Bahkan sampai ajalnya Yakub dalam kata-kata terakhir sebelum ia meninggal, masih mengingat peristiwa masa lalu anaknya Simeon dan Lewi tersebut. Memberi kutuk kepada dua anaknya tersebut. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis (Kejadian 49:7).

Apa makna dari kisah ini kepada kita? Pertama, mengedapankan dialog dengan baik adalah cara terbaik untuk dilakukan ditengah-tengah gejolak masalah yang mungkin sedang terjadi. Butuh hati yang tenang dan kepala yang dingin untuk mengecek apa-apa saja persoalan yang terjadi, bagaimana dampaknya dan bagaimana solusi terbaik yang akan diambil.

Kedua, sebenarnya tidak perlu membesar-besarkan masalah, jika sudah ada jalan tengah yang diambil. Apalagi memberikan solusi seakan baik, tapi dibelakannya mengandung perbuatan keji yang sangat dalam untuk membalaskan kejahatan dari orang lain yang mungkin sudah menyakiti kita. Balas dendam adalah bukan bagian atau pilihan bagi anak-anak Tuhan, biarkan itu menjadi bagiannya Tuhan untuk membalaskannya. Bagian kita dibumi, cukup mengingatkan mereka dan mengampuni akan kesalahan mereka.  Lopait, 11 Maret 2026

Pertemuan Yakub dengan Kakaknya Esau - Kejadian 33

 

Kejadian 33


Ketakutan Yakub menghadapi masalah terbesarnya akhirnya terjawab di perikop ini. Awalnya berpikir dia dan keluarganya akan musnah karena Esau tidak sendirian datang melainkan bersama dengan 400 orang pendampingnya. Dan untuk melunakkan hati kakaknya itu, dia-pun mengatur persembahan berupa ternak, baik kambing, domba, lembu, totalnya mencapai 500-an lebih. Persembahan itu dibawa oleh dua sampai tiga pasukan pengiringnya Yakub dengan maksud bisa melunakkan hati kakaknya.

Awalnya Esau enggan menerima persembahan adiknya itu, tetapi setelah dibujuk oleh Yakub, akhirnya Esau menerima juga semua persembahannya itu. Dia menolak karena punya banyak hewan peliharaan di Seir atau Edom.

Sebelum ketemu untuk pertama kali, pengaturan istri dan anak-anaknya juga sangat unik. Dimana istri dari budaknya bersama anak-anaknya, ada di barisan paling depan. Kemudian disusul oleh Lea dan anak-anaknya nomor dua paling belakang. Sementara Rahel dan Yusuf ada di barisan paling belakang. Ini menunjukkan bagaimana kadar sayangnya Yakub kepada Rahel dan Yusuf jauh lebih besar. Sebab jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, yakni saat kakaknya Esau masih mengingat dendam yang lama, keselamatan Rahel dan Yusuf jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Lea maupun dua istri budaknya yang lain. Karena memang agak berjarak pengaturan nya Yakub.

Meskipun demikian, Yakub tetap mengambil peran tanggungjawabnya, dengan berdiri langsung paling depan sebelum istri-istri dan anaknya. Dia sujud sampai 7 kali ke tanah, karena bagi Yakub saat melihat Esau seperti melihat wajah Allah (Kejadian 33:10). Disusul oleh istri-istri dan anak-anaknya juga sujud dihadapannya Esau saat Esau melihat bagaimana Tuhan sangat memberkati adiknya itu di negeri asing.

Ternyata Esau telah melupakan dendamnya dimasa lalu. Dia Langsung memeluk adik satu-satunya itu, dan bertangis-tangisan. Esau tetap sayang sama adiknya itu. Bahkan untuk menjamin keselamatan adik dan semua keluarganya, dia rela secara langsung mengiring kemudian meninggalkan pasukan penjaganya Esau untuk mendampingi selama di perjalanan untuk tiba di tanah Kanaan.

Yakub menolak dengan halus atas dua kali permintaan kakaknya itu. Sebab dia memikirkan langkah anak-anaknya serta binatang ternaknya yang tidak bisa diburu perjalanannya. Kalau diburu, tentu akan bisa berakibat fatal baik bagi anak-anaknya maupun bagi binatang ternak yang ia punya. Akhirnya Esau pulang bersama pasukannya yang 400 ke Seir.

Sebelum sampai di Sikhem, di tanah Kanaan, Yakub terlebih dahulu singgah di Sukhot. Dimana Yakub sempat mendirikan rumah bagi nya, dan gubuk-gubuk bagi binatang ternaknya. Artinya Yakub lumayan lama tinggal di situ, untuk memulihkan tenaga karena jauhnya perjalanan dari Aram-Mesopotamia ke tanak Kanaan.

Kemudian memilih Sikhem menjadi pemberhentian terakhir Yakub dan anak-anaknya. Bahkan sempat membeli sebidang tanah dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem untuk mendirikan kemah disana. Dimana tanah ini nantinya  diwariskan kepada Yusuf anaknya. Dan Yusuf sendiripun  nantinya akan dikuburkan disitu juga (Yosua 24:32).

Apa arti dari perikop ini bagi kita? Pertama, masalah sebesar apapun itu, haruslah kita hadapi. Jangan pernah lari. Meskipun itu awalnya adalah kesalahan dari kita sendiri, memilih untuk lari, tentu tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada. Dengan duduk diam sejenak, berdoa, dan libatkan Tuhan dalam persoalan kita, niscaya Tuhan akan bukakan jalan dan memberikan keberanian bagi kita menghadapi persoalan-persoalan yang ada.

Kedua, memikirkan orang yang paling lemah dalam kelompok kita, haruslah yang menjadi prioritas untuk membangun visi bersama. Seperti Yakub yang memilih melangkah bersama langkah anak-anaknya dan langkah hewan-hewannya, dibandingkan harus mengejar langkah dari Esau dan pasukannya yang tentu akan sangat cepat. Dengan strategi yang demikian, kita bukan hanya mampu mencapai visi, kedekatan sesama anggota tim akan jauh lebih baik dan lebih intim lagi untuk bisa mencapai mimpi atau visi-visi yang ada. Bahkan mencapai visi yang lebih besar lagi akan jauh lebih mudah jika modal kesatuan hati dan kesehatian tim sudah terbina sejak semula.

Lopait, 10 Maret 2026

Kamis, 11 Juni 2026

Yakub di Mahanaim dan Pniel - Kejadian 32

 

Kejadian 32


Unik kisah dalam kejadian 32 ini, karena diawali Yakub menemukan Mahanaim dan diakhir perikop menemukan Pniel. Kedua tempat ini merupakan sebuah rangkaian bagaimana Yakub bertemu dengan Allah. Di Mahanaim yang berarti God Camps atau Tempat Bala Tentara Allah sementara di Pniel yang berarti Yakub bertemu muka Tuhan atau the face of God, tapi tetap selamat.

Dua fase penemuan Yakub ini merupakan serangkaian perjalanannya akan pulang ke negeri tempat Kakeknya, Abraham dan Ishak, ayahnya di tanah Kanaan. Setelah dua puluh tahun ada di negeri asing, keharusan pulang sudah tak bisa terbendung. Meskipun harus menghadapi tantangan terbesar Yakub yang telah membuat dia pergi dari rumah ayahnya, yakni Esau, itu harus tetap dihadapi dengan segala risiko yang ada.

Yakub memulai dengan mengirim utusan kepada Esau tentang kepulangannya. Dan setelah mendapatkan kabar, Esau sendiri bersama 400 orang langsung datang untuk menjumpai Yakub. Sesudah dapatkan kabar dari utusannya itu, ketakutan yang begitu besar menimpa dia. Dia pun pasang strategi bagaimana cara untuk melunakkan hati kakak tertuanya ini (Kejadian 32: 20?

Pertama membagi pasukannya menjadi dua  sampai tiga bagian dengan membagi hewan-hewan peliharaan yang sudah Yakub dapatkan dari rumah Laban, mertuanya. Mulai dari domba betina, domba jantan, unta, lembu dan keledai. Khusus untuk persembahan kepada Esau, Yakub mempersiapkan 200 kambing betina dan 200 domba betina, 20 kambing jantan dan 20 domba jantan, 40 lembu betina, 10 lembu jantan, 20 keledai betina dan 10 keledai jantan. Sehingga kalau ditotal mencapai 520 hewan peliharaannya Yakub.

Bisa dibayangkan seberapa besar bawaan Yakub atau harta benda atau binatang peliharaan yang ia miliki untuk pulang ke rumah ? Mungkin bisa jadi 10 kali lipat atau lebih dari persembahan yang ia berikan kepada Esau kakaknya. Jika 10 kali lipat bisa minimal bisa mencapai 5.000-an binatang peliharaan. Betapa kayanya Yakub yang awalnya ia hanya bermodalkan tangan kosong untuk datang ke rumah mertuanya, Laban. Tetapi dengan kerja keras dan semangat baja melawan terik matahari dan dinginnya malam serta upayanya diberkati Tuhan selama kurang lebih 20 tahun akhirnya mampu untuk dapatkan berkat Tuhan itu baginya.

Setelah strategi melunakkan hati Esau kakaknya dengan memberi jarak antara satu pasukan dengan pasukan lain dengan bekal persembahan yang sudah siapkan, Yakub ternyata mencari Tuhan lewat janji-janji yang Tuhan sempat sampaikan kepadanya.  Yakni berkat keturunan sampai sebanyak pasir di laut yang tidak dapat dihitung. Meminta dengan sangat dalam doanya, supaya ia diluputkan dari kebinasaan yang hendak Esau lakukan kepadanya.

Di dalam doanya itu, setelah istri dan anak-anakya di seberangkan semua dari sungai Yabok, Yakub sendirian bergumul dengan Allah di malam hari hingga fajar menyingsing dan akhirnya Yakub menang. Tapi sendi pangkal pahanya terpelecok. Dan dalam momen itu, namanya pun diganti menjadi Israel yang berarti engkau telah bergumul dengan Allah dan manusia dan engkau menang.  Tepat di Pniel nama atau identitasnya Yakub berubah. Yang awalnya arti nama Yakub adalah penipu, menjadi Israel yang berarti pemenang.

Apa arti perikop ini bagi kita? Pertama, di Mahanaim, sejatinya malaikat Allah selalu berada dan berkemah di sekitar kita, yakni orang-orang yang takut akan Dia (Mazmur 34:7). Kemudian di Mazmur 91:11 juga tercatat, sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Masihkah kita ragu akan janji perlindungan dan penyertaannya yang begitu luar biasa bagi kita?

Kedua, di Pniel jangan lupa kita harus bergumul dengan Allah, bahkan kalau bisa sampai fajar menyingsing, itu artinya doa semalam suntuk sampai ia menyatakan berkatnya. Mampukah kita berdoa sedemikian dihadapan Allah yang besar? Berdoa bagi jutaan jiwa-jiwa yang terhilang sampai saat ini? Berdoa bagi perdamaian dan kesejahteraan bangsa kita? Berdoa bagi pemerintah kita serta pelayanan kita saat ini?

Lopait, 9 Maret 2026

 

Yakub Meninggalkan Laban - Kejadian 31

 

Kejadian 31


Yakub menunggu Allah bicara kepadanya saat dan kapan ia harus pergi meninggalkan rumah mertuanya, Laban. Tidak mengambil inisiatif duluan atau mengandalkan pikirannya saat dan kapan untuk pergi dan kapan untuk datang. Begitu juga saat membuat inovasi dalam memperoleh harta dari ternak-ternak mertuanya, kambing domba, Tuhan Allah memberikan mimpi kepadanya, bagaimana membuat kambing-domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang, Kejadian 31:10. Setelah mendapatkan petunjuk Tuhan, Yakub kerja keras meski diterjang panas waktu terik matahari dan diterjang dingin waktu malam, dia terus berupaya mewujudkan mimpinya itu.

Total 6 tahun untuk memperoleh kambing domba itu, sementara untuk dapatkan istrinya harus bekerja selama 14 tahun. Total 20 tahun Yakub tinggal bersama Laban (Kej. 31: 40-41). Dan untuk upah Yakub ternyata mertuanya sudah 10 kali berbuat curang mengganti-ganti sesuai kehendaknya. Tapi Allah lagi-lagi tidak mau membiarkan nabinya dicurangi atau dibuat jahat sama orang lain (Mazmur 105 14).

Memasang taktik bagaimana bisa meninggalkan segera rumah Laban, dengan tidak memberitahukan Laban tentang maksudnya itu. Sehingga ada jarak selama 3 hari perjalanan jauhnya, Yakub bisa dengan tenang membawa istri, anak dan semua harta kambing dombanya sampai tiba di pegunungan Gilead.

Laban dan sanak saudaranya ikut mengejar Yakub dan akhirnya sampai menjumpai Yakub. Tuhan-pun mengingatkan Laban dalam perjalanannya sebelum ia tiba, untuk tidak mengatai Yakub sepatah katapun (Kejadian 31: 24 & 29). Tidak boleh ada kata yang mengutuk, merendahkan sepatah katapun. Mulut harus dijaga saat menjumpai orang benarnya Tuhan karena Tuhan memelihara dan menjaga orang benar di hadapan Tuhan.

Laban taat dan hanya bertanya mengapa dia tidak diberi kesempatan untuk mencium anak-anaknya dan cucunya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan dia. Meskipun sempat konflik juga, karena terafim atau dewanya Laban ternyata dicuri oleh istrinya, Rahel. Yakub tidak tahu, bahkan mengeluarkan pernyataan, kepada siapa terafim itu didapatkan biarlah ia mati.

Perkataan ini sangat berdampak bagi Rahel dikemudian hari, meski tidak terjadi pada saat itu juga. Karena dia berhasil mengelabui ayahnya, untuk tidak beranjak dari pelana untanya karena dia sedang haid. Semua kemah telah diperiksa Laban akhirnya tak menemukan terafim yang Laban maksud.

Akhirnya dibuat sebuah perjanjian dengan kumpulan batu yang menjadi timbunan yang oleh Laban menyebut timbunan batu itu, Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed. Sebab batu itu ini menjadi kesaksian antara Yakub dan Laban, bahwa mereka tidak boleh melewati timbunan batu itu dengan niat jahat. Dengan momen batu kesaksian itu juga. Laban-pun menambahkan untuk tidak boleh bagi Yakub untuk mengaibkan anak-anaknya dengan mengambil istri lain disamping anak-anaknya. Mereka-pun makan besar di gunung itu dan esoknya Laban pergi pulang dan Yakub melanjutkan perjalanannya kembali.

Apa makna dari perikop ini? Pertama, mari belajar menunggu firman Tuhan sesaat, sebelum melakukan atau memutuskan sesuatu yang besar terjadi dalam hidup kita. Seperti Yakub yang tetap menunggu apa kata Tuhan, kapan dia boleh pergi keluar dari rumah mertuanya. Sebab jika tidak menunggu janji Tuhan, pastilah sesuatu yang mengecewakan akan terjadi dalam hidup kita. Tapi jika kita setia menunggu apa janjinya, itu sesuatu hal yang membuat kita berhasil, bertumbuh dan sukses.

Kedua, Tuhan juga pasti memberikan cara atau petunjuk. Bagaimana setelah janji yang Ia ucapkan itu entah lewat ilham atau mimpi, Tuhan akan memberikan cara langkah demi langkah bagi kita. Ini tentu momen yang menarik bagi kita, seperti Yakub yang dapatkan momen itu. Dan bekerja sangat keras untuk mewujudkan itu semua. Bagi kita, pilihan untuk tinggal diam  atau No. action bukanlah pilihan yang bijak bagi  kita. Lakukan maka keberhasilan akan datang.

Lopait, 7 Maret 2026

Yusuf, Firaun dan Bencana Kelaparan - Kejadian 41

  Kejadian 41 Dua tahun bukan waktu yang singkat bagi Yusuf saat dia ada dalam penjara. Tapi itu waktu yang pas bagi Yusuf untuk bisa bert...