![]() |
| Kejadian 47 |
Ketika
bertemu dengan Firaun, pernyataan Yusuf tentang pekerjaan apa yang mereka
lakukan selama ini akhirnya ditanyakan Firaun kepada 5 saudaranya. Tapi
perkataan Yusuf untuk menghaluskan apa jenis pekerjaan mereka, saat Firaun
bertanya tetap tegas disampaikan bahwa mereka adalah gembala kambing dan domba
(Sheperd) bukan keeper atau pemelihara seperti yang Yusuf minta. Firaun tidak
mempermasalahkan dan juga mengijinkan mereka untuk tinggal di tanah terbaik
yang ada di Mesir untuk memelihara hidup mereka dan kawanan. Bahkan sempat
berpesan jika ada yang tangkas bisa menjadi pengawas ternak atau overseer of
lifestock miliknya Firaun.
Saat
bertemu Yakub, Firaun bertanya tentang usianya. Yakub menyampaikan usianya saat
itu 130 tahun. Disampaikan juga bahwa tahun-tahun pengembaraannya tidak
sepanjang usia dari ayah dan kakeknya. Dia-pun sempat memberkati Firaun dan
kerajaannya dihadapan Tuhan dan akhirnya pergi meninggalkan Firaun kembali ke
tanah Gosyen.
Abraham
sampai berusia 175 tahun (Kejadian 25:7) dan Ishak ayahnya 180 tahun (Kejadian
35:28). Sementara Yakub sendiri masih hidup 17 tahun lagi di Mesir sehingga
total usia Yakub 147 tahun. Secara khusus Yakub meminta Yusuf untuk datang
kepadanya dan bersumpah saat ajalnya tiba, untuk tidak menguburkannya di Mesir
melainkan di tanah pekuburan yang telah dibeli oleh Abraham di Hebron.
Yusuf-pun berjanji dan akan melakukan apa yang jadi wasiat ayahnya itu.
Kelaparan
masih begitu panjang di seluruh dunia yakni 5 tahun lagi saat Bani Israel tiba
di Mesir. Di tahun pertama, segala uang yang dimiliki oleh masyarakat Mesir
habis untuk membeli bahan makanan. Di tahun kedua seluruh penjuru warga Mesir
datang lagi ke Yusuf. Akhirnya ditukar dengan segala hewan ternak mereka. Dan
sesudah habis, di tahun ketiga, tak ada lagi apa-apa, yang tersisa hanya tanah
dan badan mereka. Meminta supaya mereka dan tanah mereka di beli oleh Firaun,
mengapakah kami harus mati dihadapanmu? Yusuf setuju dan akhirnya semua tanah
yang ada di Mesir sudah menjadi miliknya Firaun. Hanya tanah milik para imam
yang tidak dibeli, karena mereka mendapat bulanan dari Firaun untuk memelihara
hidup mereka.
Di
tahun ketiga itu dan untuk seterusnya, Yusuf mengeluarkan kebijakan, supaya
tiap benih yang diberikan istana untuk dikelola masyarakatnya, seperlimanya
adalah milik Firaun. Sementara empat
perlima nya adalah menjadi kepunyaan masing-masing warga Mesir untuk kebutuhan
keluarga mereka. Kebijakan ini-pun masih berlaku sampai sekarang.
Apa
yang menjadi pelajaran bagi kita dalam perikop ini? Pertama, butuh kerendahan
hati saat bertemu orang-orang dimanapun dan siapapun itu. Dengan kerendahan
hati akan menunjukkan karakter kita yang baik di depan mereka. Oleh sikap yang
demikian bisa saja jadi berkat terselubung bagi kita. Sesungguh-nya Firaun bisa
saja mendatangkan kecelakaan bagi orang Israel saat itu, tapi lagi-lagi karena
sikap yang rendah hati, kecelakaan itu tidak jadi datang.
Kedua,
kebijakan yang baik adalah kebijakan yang datang dari orang yang baik dan
berintegritas serta yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Kebijakan yang baik
itu-pun bukan hanya bisa menyelesaikan persoalan kekinian tapi akan bisa
dirasakan bukan hanya pada masa kita saja, dampaknya akan bisa dialami oleh
generasi-generasi setelah kita.
Bagaimanakah
kebijakan pemerintah kita saat ini apakah sudah bisa menyelesaikan persoalan
masyarakat kekinian dan bahkan akan berdampak baik bagi generasi setelahnya?
Lopait,
27 Maret 2026










