Janji yang Digenapi dan Air dalam Sumur - Kejadian 21
![]() |
| Kejadian 21 |
Air sangat berguna
untuk kelanjutan hidup manusia, mulai dari zaman dulu hingga sekarang, tidak
bisa disangkal bagaimana berharganya air. Apalagi jika ada di padang gurun,
kebutuhan air menjadi sangat vital. Dalam perikop ini ada tiga peristiwa,
pertama bagaimana Allah akhirnya menepati janjinya, kedua bagaimana Ismail dan
Hagar di usir, ketiga bagaimana Abraham membuat janji dengan Abimelekh di
negerinya. Sehingga di perikop ini bisa diperkirakan lahirnya Ishak anak yang
dijanjikan itu di negeri orang Filistin, yakni di Gerar (Kej 20 :1 & Kej
21:34).
Lahirnya Ishak di
masa tuanya Abraham menunjukkan betapa setianya Tuhan atas setiap janjinya.
Meskipun tampaknya mustahil, fisik yang sudah tua, usia Abraham 100 tahun, Sara
90 tahun dan sudah mati haid, tidak mungkin akan mengandung dan lahirkan anak.
Ishak yang artinya tertawa, mematahkan setiap kemustahilan. Awalnya tawa Sara
yang meragukan Ishak lahir (Kej 18) menjadi tawa penuh kemenangan di Kej 21.
Sementara tawanya Abraham penuh keyakinan (Kej 17) tetap sama di perikop ini.
Sara-pun
mengeluarkan pernyataan,: ”Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada
Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki
baginya pada masa tuanya.” (Ay. 7). Abraham-pun ingat akan sunat yang menjadi
tanda perjanjian Allah dengannya, sehingga di hari ke-8 Ishak-pun disunat.
Akhirnya, tiba bagi
Hagar dan Ismail diusir dari kemahnya Abraham. Dimulai bagaimana Ismail bermain
dengan Ishak. Tapi dalam Versi Alkitab terjemahan Faithful Version, bukan kata
bermain tetapi ‘Mocking’ atau mengejek/mengolok-olok. Bahkan padanannya
terjemahan ini ada di Gal 4: 29, Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan
menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikianlah sekarang
ini. Sehingga tidak heran, jika kita pengikutnya Kristus tetap menjadi sasaran
dari kaum seberang sampai sekarang.
Mereka diusir
dengan hanya bekal sekirbat air dan roti. Hagar sempat membuang anaknya itu
yang sudah remaja, karena habisnya air dalam kirbat. Di tengah-tengah rasa
putus asa, Tuhan ternyata mendengarkan seruan hatinya Hagar. Memampukan Hagar
melihat solusi atas permasalahannya, yakni air yang ada dalam sumur. Sehingga
kehidupan mereka tetap berlangsung, tinggal di padang gurun Paran, dan saat
dewasanya Ismail, ibunya mencarikan istri baginya dari bangsa Mesir.
Kemudian, kisah
yang hampir mirip tentang persoalan sumur yang digali oleh Abraham ternyata
dirampas oleh pasukannya Abimelekh. Saat dia dan Pikhol panglima tentaranya
datang ke kemahnya, Abraham langsung menyatakan tentang persoalan sumur itu.
Abimelekh menyangkal tentang persoalan sumur itu. Tapi Abraham menyatakan bahwa
dia lah yang telah menggali sumur itu. Abraham langsung menyerahkan 7 anak
domba betina sebagai tandanya dan harus lah diterima sama Abimelekh. Sehingga
tempat itu dinamakan Barsyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah (Kej
21:31).
Apa makna kisah di
atas? Pertama, kesetiaan Allah tentang janji Firmannya kekal. Tak sekalipun
janji Firmannya gugur. Sekalipun tampak mustahil, tapi Tuhan mampu untuk
menyatakannya. Masihkah kita ragu akan janji Firmannya? Sudah kah kita dapat
janji Firmannya dalam hidup kita akhir-akhir ini?
Kedua, adanya air
adalah awal tandanya kehidupan. Mari temukan air kehidupan itu. Seperti air
yang sudah melanjutkan hidupnya Hagar dan Ismail, bahkan Abraham-pun sampai
bersumpah tentang air yang ada dalam sumur yang digalinya, sudahkah kita minum
air kehidupan yang terus terpancar lewat firmanNya setiap hari, bahkan setiap
saat dalam kehidupan kita?
Air kehidupan itu
adalah Yesus. Jawab Yesus kepadanya: ”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus
lagi, 14tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia
tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan
kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar
sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:13-14). Sudahkah kita menerima Yesus?
Lopait, 23 Febuari
2026

Komentar
Posting Komentar