![]() |
| Kejadian 31 |
Yakub
menunggu Allah bicara kepadanya saat dan kapan ia harus pergi meninggalkan
rumah mertuanya, Laban. Tidak mengambil inisiatif duluan atau mengandalkan
pikirannya saat dan kapan untuk pergi dan kapan untuk datang. Begitu juga saat
membuat inovasi dalam memperoleh harta dari ternak-ternak mertuanya, kambing
domba, Tuhan Allah memberikan mimpi kepadanya, bagaimana membuat kambing-domba
itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang, Kejadian 31:10.
Setelah mendapatkan petunjuk Tuhan, Yakub kerja keras meski diterjang panas
waktu terik matahari dan diterjang dingin waktu malam, dia terus berupaya
mewujudkan mimpinya itu.
Total
6 tahun untuk memperoleh kambing domba itu, sementara untuk dapatkan istrinya
harus bekerja selama 14 tahun. Total 20 tahun Yakub tinggal bersama Laban (Kej.
31: 40-41). Dan untuk upah Yakub ternyata mertuanya sudah 10 kali berbuat
curang mengganti-ganti sesuai kehendaknya. Tapi Allah lagi-lagi tidak mau
membiarkan nabinya dicurangi atau dibuat jahat sama orang lain (Mazmur 105 14).
Memasang
taktik bagaimana bisa meninggalkan segera rumah Laban, dengan tidak
memberitahukan Laban tentang maksudnya itu. Sehingga ada jarak selama 3 hari
perjalanan jauhnya, Yakub bisa dengan tenang membawa istri, anak dan semua
harta kambing dombanya sampai tiba di pegunungan Gilead.
Laban
dan sanak saudaranya ikut mengejar Yakub dan akhirnya sampai menjumpai Yakub.
Tuhan-pun mengingatkan Laban dalam perjalanannya sebelum ia tiba, untuk tidak
mengatai Yakub sepatah katapun (Kejadian 31: 24 & 29). Tidak boleh ada kata
yang mengutuk, merendahkan sepatah katapun. Mulut harus dijaga saat menjumpai
orang benarnya Tuhan karena Tuhan memelihara dan menjaga orang benar di hadapan
Tuhan.
Laban
taat dan hanya bertanya mengapa dia tidak diberi kesempatan untuk mencium
anak-anaknya dan cucunya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan dia.
Meskipun sempat konflik juga, karena terafim atau dewanya Laban ternyata dicuri
oleh istrinya, Rahel. Yakub tidak tahu, bahkan mengeluarkan pernyataan, kepada
siapa terafim itu didapatkan biarlah ia mati.
Perkataan
ini sangat berdampak bagi Rahel dikemudian hari, meski tidak terjadi pada saat
itu juga. Karena dia berhasil mengelabui ayahnya, untuk tidak beranjak dari
pelana untanya karena dia sedang haid. Semua kemah telah diperiksa Laban
akhirnya tak menemukan terafim yang Laban maksud.
Akhirnya
dibuat sebuah perjanjian dengan kumpulan batu yang menjadi timbunan yang oleh
Laban menyebut timbunan batu itu, Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya
Galed. Sebab batu itu ini menjadi kesaksian antara Yakub dan Laban, bahwa
mereka tidak boleh melewati timbunan batu itu dengan niat jahat. Dengan momen
batu kesaksian itu juga. Laban-pun menambahkan untuk tidak boleh bagi Yakub
untuk mengaibkan anak-anaknya dengan mengambil istri lain disamping
anak-anaknya. Mereka-pun makan besar di gunung itu dan esoknya Laban pergi
pulang dan Yakub melanjutkan perjalanannya kembali.
Apa
makna dari perikop ini? Pertama, mari belajar menunggu firman Tuhan sesaat,
sebelum melakukan atau memutuskan sesuatu yang besar terjadi dalam hidup kita.
Seperti Yakub yang tetap menunggu apa kata Tuhan, kapan dia boleh pergi keluar
dari rumah mertuanya. Sebab jika tidak menunggu janji Tuhan, pastilah sesuatu
yang mengecewakan akan terjadi dalam hidup kita. Tapi jika kita setia menunggu
apa janjinya, itu sesuatu hal yang membuat kita berhasil, bertumbuh dan sukses.
Kedua,
Tuhan juga pasti memberikan cara atau petunjuk. Bagaimana setelah janji yang Ia
ucapkan itu entah lewat ilham atau mimpi, Tuhan akan memberikan cara langkah
demi langkah bagi kita. Ini tentu momen yang menarik bagi kita, seperti Yakub
yang dapatkan momen itu. Dan bekerja sangat keras untuk mewujudkan itu semua.
Bagi kita, pilihan untuk tinggal diam
atau No. action bukanlah pilihan yang bijak bagi kita. Lakukan maka keberhasilan akan datang.
Lopait,
7 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar