Yakub Dapat Berkat Anak Sulung - Kejadian 27

Kejadian 27


Rangkaian peristiwa yang dialami oleh Esau, anak pertama Ishak dan Ribka dituliskan dengan sangat jelas dalam Ibrani 12:16-17. “Jangan ada orang yang... mempunyai nafsu rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Dan tercatat dalam Kejadian 27, ada dua kali Esau menangis untuk dapatkan berkat Anak Sulung. 'Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: ”Berkatilah aku ini juga, ya bapa!” (Kej 27:34) dan  dalam ayat  38, Kata Esau kepada ayahnya: ”Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!” Dan dengan suara keras menangislah Esau.

Tidak ada kesempatan bagi Esau karena keteledorannya. Ia  tetap menjadi hamba kepada Yakub yang sudah diberkati oleh Ishak menjadi Anak Sulung. Meskipun dalam pemerolehan Hak kesulungan yang diperoleh Yakub dengan intrik dan tipudaya yang dilakukan bersama dengan Ibunya, Yakub tetap menjadi orang yang diberkati dengan berkat tersebut.

Ibunya menyuruh Yakub untuk lebih dulu menyiapkan makanan enak dari hewan buruan (versi Esau), dia diminta ambil dari kambing-kambing peliharaan mereka. Supaya diolah menjadi makanan kesukaan Ishak. Ibunya yang mengolah makanan tersebut, dan sebelum diserahkan kepada Ishak, Ibunya membantu Yakub dengan mengenakan bulu kambing yang sudah dipotong ke tangan dan lehernya Yakub, serta mengenakan pakaian bagus milik Esau untuk dikenakan Yakub.

Saat tiba makanannya akan diserahkan, Ishak sampai dua kali mengkonfirmasi bahwa apakah dia itu Esau atau bukan? Yakub dengan berani mengatakan, benar ia adalah Esau anaknya. Setelah diraba benar berbulu tapi suara tidak. Dalam keraguan Ishak, akhirnya dia memberikan berkat kesulungan itu kepada Yakub anaknya.

Kemudian sesudah Yakub keluar dari bilik ayahnya, Esau-pun datang. Memberikan suguhan makanan yang ayahnya pesankan kepadanya. Ishak-pun terkejut dan bertanya siapakah dia yang sudah memberikan makanan kepadaku sebelum engkau?

Tapi semuanya sudah terlambat. Dan akhirnya Esau dendam, meskipun sudah dapat berkat juga dari Ishak. Tanah kediaman Esau jauh dari tanah gemuk, jauh dari embun langit dia akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu (Kej27:39).

Ribka-pun juga mengatur bagaimana anaknya Yakub bisa pergi dari rumah dan pergi ke rumah kakaknya, Laban di Haran. Dia tidak mau kehilangan kedua anaknya, karena dendam Esau kepada Yakub yang hendak membunuh dia. Mengatakan bahwa dia sudah jemu tinggal bersama dengan dua menantunya yang orang Het, istrinya Esau. Supaya Yakub mengambil istri dari sanak saudara mereka di Haran.

Apa makna perikop ini bagi kita? Pertama, sikap menjaga hak kesulungan itu sangatlah penting bagi kita. Karena kita yang sudah menerima Kristus dalam hidup kita punya hak kesulungan untuk menyampaikan injil ke mereka yang belum menerima Kristus dalam hidupnya. Jika kita mengabaikan berkat ini, kita-pun akan diabaikan oleh Tuhan dan dijauhkan dari berkat-berkat yang akan didatangkan kepada kita.

Kedua, lakukan dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan dan melakukan berkat kesulungan itu. Buat atau atur strategi yang ujung-ujungnya bagaimana sebanyak mungkin orang bisa menerima Kristus dalam hidupnya. Jangan sampai ada yang kehilangan, sebab satu jiwa-pun sangat berharga di mata Tuhan. Sama seperti Ribka yang tak mau kehilangan anaknya, hanya karena dendam sesaat Esau anaknya.  Maukah kita jadi alatnya untuk sampaikan Injil itu sampai ke ujung-ujung bumi?

Lopait, 3 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Allah Sang Pencipta Kita Lewat Ciptaannya- Kejadian 1

Kejatuhan Manusia - Kejadian 3

Abraham dan Abimelekh- Pengulangan Kesalahan yang Sama - Kejadian 20