Anak Perempuan Yakub, Dina Kejadian 34
![]() |
| Kejadian 34 |
Dina
lahir dari istri Yakub yang bernama Lea. Setelah melahirkan 6 orang anak, Dina
adalah anak ketujuh dan satu-satunya anak perempuan yang dilahirkan bagi Yakub.
Tentu Dina menjadi perempuan yang sangat elok rupanya, hingga membuat anak
raja, yang bernama Sikhem melakukan perbuatan sumbang kepadanya. Memperkosanya
tapi uniknya hatinya malah terpaut dengan Dina dan hendak menikahinya.
Dia
meminta dengan sangat baik kepada ayahnya sendiri supaya ngomong langsung
dengan Yakub tentang perbuatannya kepada Dina. Sikhem juga berani menyampaikan
maksudnya sendiri di hadapan Yakub serta abang dan kakaknya Dina secara
langsung. Dimana awalnya antara para ayah yang bicara, karena memang saat
ayahnya Sikhem atau Hemor datang, kakak-kakak Dina sudah pergi ke ladang untuk
memelihara kambing domba. 12 anak Yakub tidak mendengar secara langsung
bagaimana perlakuannya Sikhem kepada adiknya itu.
Saat
mendengar secara lengkap hati mereka hancur, khususnya Simon dan Lewi, anak
kedua dan ketiga dari Lea, Ibunya. Meskipun Sikhem mau bayar uang mahar
sebanyak apapun diminta oleh Yakub dan keluarganya, niscaya Papanya, Hemor akan
mampu membayarnya.
Tapi
tidak dengan Simeon dan Lewi, sehingga mengatur siasat bagaimana membalaskan
kejahatannya Sikhem kepada adiknya? Terpikirkan satu cara agar bisa mengalahkan
mereka. meskipun dengan jumlah yang
sangat sedikit tapi bisa mengalahkan jumlah pasukan yang besar. Yakni dengan
meminta mereka ikut disunat semuanya. Bukan hanya Sikhem dan papanya, seluruh
penduduknya juga harus disunat. Dengan tujuan supaya bisa saling kawin silang
antara orang Sikhem dengan keturunan Yakub atau Israel.
Uniknya
seluruh penduduk orang Sikhem menyetujui syarat yang disampaikan oleh keturunan
Yakub kepada mereka. Dan tepat di hari ketiga saat mereka semua sedang
kesakitan, Simeon dan Lewi langsung bergerak cepat untuk membalaskan kebencian
yang ada dalam hati mereka kepada seluruh penduduk Sikhem. Bukan hanya raja dan
anaknya yang kena, semua orang di bangsa itu kena dan dibinasakan sama Simeon
dan Lewi. Bukan hanya dibunuh, merampas semua harta benda kepunyaan mereka
juga.
Tentang
hal itu, Yakub sampai sangat marah kepada dua puteranya itu saat itu. Bahkan
sampai ajalnya Yakub dalam kata-kata terakhir sebelum ia meninggal, masih
mengingat peristiwa masa lalu anaknya Simeon dan Lewi tersebut. Memberi kutuk
kepada dua anaknya tersebut. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya
keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis (Kejadian 49:7).
Apa
makna dari kisah ini kepada kita? Pertama, mengedapankan dialog dengan baik
adalah cara terbaik untuk dilakukan ditengah-tengah gejolak masalah yang
mungkin sedang terjadi. Butuh hati yang tenang dan kepala yang dingin untuk
mengecek apa-apa saja persoalan yang terjadi, bagaimana dampaknya dan bagaimana
solusi terbaik yang akan diambil.
Kedua,
sebenarnya tidak perlu membesar-besarkan masalah, jika sudah ada jalan tengah
yang diambil. Apalagi memberikan solusi seakan baik, tapi dibelakannya
mengandung perbuatan keji yang sangat dalam untuk membalaskan kejahatan dari
orang lain yang mungkin sudah menyakiti kita. Balas dendam adalah bukan bagian
atau pilihan bagi anak-anak Tuhan, biarkan itu menjadi bagiannya Tuhan untuk
membalaskannya. Bagian kita dibumi, cukup mengingatkan mereka dan mengampuni
akan kesalahan mereka. Lopait, 11 Maret
2026

Komentar
Posting Komentar