Ishak dan Abimelekh - Kejadian 26

 

Kejadian 26

Persoalan bencana Kelaparan tidak pernah lepas bagi orang banyak zaman dulu. Persoalan ini menjadi sentral dan belum terpecahkan sampai di zamannya Yusuf yakni cucunya Ishak. Dengan sistem rantai pasok makanan yang ditemukan oleh Yusuf, akhirnya bisa membuat pasokan makanan tetap ada meskipun panen tidak ada lagi. 

Bencana ini mendrive atau  mendorong banyak orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Termasuk Ishak sendiri akhirnya berpindah-pindah juga. Tapi pesan Tuhan sangat jelas untuk tidak pindah ke Mesir, melainkan pergi ke tanah Filistin yang dikuasai oleh Abimelekh, yakni di Gerar.

Tentu bagi Ishak pengalaman bertemu dengan Abimelekh adalah yang pertama kali. Sementara bagi hamba-hambanya, tentu sudah pernah tinggal disitu, ketemu  Abimelekh yang sama bersama Pikhol panglimanya, serta sahabatnya Ahuzat adalah pengalaman yang sudah kesekian kalinya sejak di zaman Abraham papanya (Kejadian 26:21).

Abimelekh-pun berkali-kali datang menjumpai Ishak, yakni sebelum bersama Pikhol dan sahabatnya, dia sempat melihat dan berjumpa Ishak, pendatang baru yang tinggal di wilayahnya di Gerar. Pertemuan perdana ini, untuk memastikan perempuan cantik yang adalah istrinya Ishak, sempat diakui oleh Ishak bukanlah istrinya, melainkan saudaranya saja. Dengan harapan, supaya Ishak tidak dibunuh hanya karena istrinya yang cantik.

Akhirnya dikeluarkan sebuah pengumuman oleh Abimelekh siapapun yang mengganggu Ishak dan keluarganya akan dihukum mati (Kej. 26:11). Karena Ishak menabur dan menabur, ia semakin kaya, bahkan tiap panennya ia mendapatkan 100 kali lipat. Ini membuat orang Gerar cemburu. Abimelekh pun juga akhirnya memutuskan supaya Ishak keluar dari Gerar. Sebab mereka takut, Ishak menjadi orang yang lebih berkuasa disana.

Ishak memilih tinggal di lembah Gerar. Konflik di lembah itu juga tidak terhindarkan dengan orang atau para gembala Gerar yang ada disana. Meskipun itu awalnya adalah sumur yang pernah digali oleh papanya, Abaraham, ternyata ditutup sama orang Filistin. Sampai tiga kali menggali sumur yang pernah digali papanya, dan menemukan airnya berbual-bual. Sumur yang pertama yang disebut Esek dan sumur yang kedua yang disebut Sitna, direbut oleh orang Gerar. Ishak tidak ngotot mempertahankan sumur yang sudah digalinya dan menyerahkan kepada mereka.

Sumur yang ketiga, yang disebut Rehoboth, menjadi sumur ketenangan bagi Ishak dan hamba-hambanya, karena tidak direbut oleh orang Gerar. Rehoboth yang artinya Tuhan memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga bisa beranak cucu.

Tapi Ishak tak lama tinggal disitu akhirnya pergi ke Bersyeba, sumur perjanjian antara Abraham dan Abimelek dengan 7 ekor domba yang harus diterima Abimelekh (Kej 21:31). Sumur itu juga ditutup sama orang Filistin. Tapi hambanya Ishak kembali menggali sumur itu, dan menemukan airnya juga berbual-bual. Semakin memperkokoh nama daerah itu menjadi  Bersyeba.

Malamnya di Bersyeba, Tuhan ngomong lagi ke Ishak dan terus memperkuat janji berkat keturunan yang besar bagi bangsa-bangsa. Di situ juga, karena Ishak berhasil, kaya dan semakin kuat, membuat Abimelekh dan timnya datang untuk buat perjanjian lagi dengan dia. Supaya tidak ada kejahatan baik dari rombongan Ishak maupun dari rombongan orang Gerar. Padahal yang sering berbuat jahat adalah orang Gerar sendiri.

Untuk perjanjian itu-pun Ishak sangat hangat dengan mereka bahkan menjamu dengan makanan dan minuman yang enak baru besoknya, Abimelek, sahabatnya dan Pikhol serta beberapa pasukannya pergi.

Apa makna perikop ini bagi kita? Pertama, sekalipun orang jahat terus datang dan merintangi hidup kita, ingat bagaimana Ishak tidak membalas kejahatan mereka, dan memilih untuk mencari jalan yang lain dan temukan solusi di jalan tersebut. Dan jika sumur itu jadi jawaban dan ditutup kembali, temukan sumur yang lain. Belajar dari pengalaman orang-orang sebelumnya untuk menemukan jalan atau sumur itu. Bahkan memberi mereka (musuh itu) makan atau minum supaya bisa berpikiran baik dengan kita.

Kedua, disamping dari luar yang datang silih berganti, masalah internal atau dalam keluarga juga pasti sulit juga. Seperti anaknya Ishak, Esau, yang memilih untuk mengambil istri dari bangsa Kanaan, yakni bani orang Het, bahkan sampai dua orang, hal litu memedihkan hati orang tuanya. Mari siap dengan banyaknya masalah, yang penting tetap andalkan Tuhan saja untuk menyelesaikan itu semua.

Lopait, 2 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Allah Sang Pencipta Kita Lewat Ciptaannya- Kejadian 1

Kejatuhan Manusia - Kejadian 3

Generasi Adam sampai Nuh, Kita Pelajari Apa? Kejadian 5