![]() |
| Kejadian 50 |
Yusuf
dan seluruh anak-anak Yakub melakukan apa yang diamanatkan oleh papanya Yakub.
Umur Yakub 147 tahun dan hanya 17 tahun dia hidup disana dan sebelum
kematiannya dia sudah mengamanatkan untuk dikuburkan kembali di pekuburan
kakeknya dan ayahnya di tanah Kanaan.
Yusuf
sangat sedih dengan kematian ayahnya itu, dia memeluk, mencium dan menangisi
ayahnya itu. Proses perkabungan Yakub sangat unik karena menggunakan budaya
Mesir. Dimana mayatnya Yakub dirempah-rempahi sampai 40 hari dan orang-orang
Mesir harus menangisi mayat ayahnya itu sampai 70 hari. Total kurang lebih 3-4
bulan setelah Yakub meninggal, anak-anak Yakub, serta seluruh cucu dan cicitnya
masih bisa melihat mayatnya Yakub dan berkabung atasnya.
Yusuf
minta ijin kepada Firaun untuk bisa pergi menguburkan ayahnya itu di Kanaan.
Dia diijinkan dan hampir seluruh pegawai, pejabat dan para tua-tua Mesir ikut
serta menyertai dalam iring-iringan membawa mayatnya Yakub itu ke Kanaan. Sehingga
menjadi sebuah iringan yang sangat besar dengan naik kereta dan jalan kaki dari
Mesir ke tanah Kanaan. Hanya binatang peliharaan mereka yang ditinggal.
Saat
tiba di pinggiran sungai Kanaan, yakni Goren-Haatad, Yusuf masih membuat
perkabungan bagi orang-orang Kanaan disana sampai 7 hari. Sangat riuh dan
sangat ramai perkabungan Yakub itu, sehingga orang-orang Kanan kembali menyebut
Goren-Haatad menjadi Abel-Mizraim karena sangat riuhnya perkabungan orang
Mesir. Yakub-pun dikuburkan di Makhpela dan setelah selesai semuanya, mereka
kembali pulang ke Mesir.
Di
tengah jalan, saudara-saudara Yusuf merasa takut mengingat kejahatan mereka
masa lalu. Dan meminta Yusuf untuk memaafkan mereka bahkan rela menjadi
budaknya Yusuf. Tapi lihat bagaimana respon Yusuf kepada saudara-saudaranya. Yusuf
berkata kepada mereka: ”Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti
Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi
Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti
yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang
besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan
anak-anakmu juga.”
Sangat
baik respon Yusuf dan punya perspektif yang beda karena memang dia mengerti
bahwa semua yang ia peroleh itu dari Allah. Jika kita lihat perjalanan Yusuf
mulai dia dijual diusia 17 tahun, jadi budak dan jadi narapidana selama 13
tahun. Dan baru jadi ketemu Firaun dan jadi Perdana Menteri diusia 30 tahun.
Lama memerintah di Mesir hingga 80 tahun karena Yusuf meninggal di usia 110
tahun. Yusuf-pun masih sempat melihat generasi ketiga bahkan keempat dari anak
cucunya. Sebelum mati dia menyampaikan pesan yang sangat penting kepada
anak-anak Israel, jika tiba waktunya, tolong untuk membawa tulang-tulangnya
untuk dibawa ke tanah warisan yang dibeli oleh Yakub kepadanya yakni tanah di
Sikhem (Yosua 24:32).
Apa
yang jadi pelajaran dari perikop ini? Pertama, kematian itu sudah pasti.
Pertanyaannyaanya apakah saat diujung hidup kita, kita sudah menyelesaikan
rencana Allah yang Allah sudah buat dalam hidup kita sebelum kita lahir? Apakah
kita sungguh-sungguh menyelesaikan rencananya dan bahkan sebelumnya apakah kita
sudah tahu pasti apa yang menjadi panggilan kita itu? Jika belum coba temukan
dan tanya Allah yang satu-satunya tahu apa desain dan peran kita di bumi ini?
Kedua,
mampukah kita seperti Yusuf bereaksi dengan kejahatan-kejahatan yang telah
dialami nya selama ini, bahwa itu semua atas seijin Tuhan dan terutama itu
adalah untuk kebaikan kita? Mungkin proses kita saat ini tidak mudah, tapi yang
penting kita tidak mudah menyerah dan terus melangkah karena langkah-langkah
itu adalah langkah-langkah yang disertai Allah.
Lopait,
31 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar