Kehidupan
Yusuf terus berlanjut, meskipun dijual sama kakak-kakaknya yang awalnya ingin
dibunuh, kepada saudagar yang kebetulan lewat. Dan Potifar, kepala pengawal
raja membeli Yusuf untuk jadi budak di rumahnya.
Uniknya
budak adalah orang yang hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Tapi beda dengan Yusuf. Karena dia orang yang disertai Tuhan dan Tuhan
senantiasa membuat segala pekerjaannya berhasil, Potifar-pun langsung mengasihi
Yusuf dan menawarkan tanggung jawab yang
lebih besar baginya. Memberikan kuasa dan segala miliknya Potifar dibawah
pengendaliannya Yusuf.
Godaan-pun
datang dari istri Potifar-pun, Yusuf tetap teguh untuk tidak melakukan
perbuatan zinah yang tentu melanggar ketentuan Allah dalam hidupnya. Tidak mau
mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh tuannya itu. Ia menolak dan
pernyataan Yusuf sangat kuat tentang kepercayaannya itu,
“Dengan
bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah
menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak
lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku
selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku
melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”
Karena
keteguhannya dia akhirnya dipenjara oleh perkataan istri Potifar yang
menjebaknya. Dengan pakaian Yusuf yang tertinggal menjadi bukti kebohongan
istri Potifar yang menyatakan bahwa Yusuf-lah yang menggoda dia. Padahal tidak,
karena berhari-hari istri Potifar mengajak Yusuf tetapi dia tidak mau.
Di
penjara-pun, Yusuf menjadi orang yang disayangi oleh kepala penjara, oleh
karena Tuhan menyertai Yusuf dan kasih Tuhan melimpah atas Yusuf. Hingga
pekerjaan kepala penjara-pun berkurang dan tidak ambil pusing untuk urusan
penjara, karena Yusuf bertanggungjawab untuk urusan itu semua. Dan segala
pekerjaan Yusuf selalu berhasil meskipun dalam kesulitan dan tidak bebas karena
ada dalam penjara.
Apa
yang menjadi makna dalam perikop ini? Pertama, miliki kasih yang besar kepada
Tuhan dan hati yang penuh taat dihadapanNya selalu. Sekalipun tampaknya situasi
yang dihadapi sekarang, berbeda dari kenyataan orang yang diberkati, tetapi
dengan kasih yang besar itu dan hati yang penuh ketaatan itu, akan mampu
membawa kita ke level yang berbeda tentang berkat yang akan kita terima. Yakni
seperti Yusuf mendapatkan kasih dari Potifar dan mendapatkan sayang dari Kepala
Penjara.
Kedua,
dengan kepercayaan yang kita terima, kita harusnya mampu mengembangkan bakat
dan potensi yang kita miliki. Tidak gampang tergoda oleh bujuk rayuan seperti
Istri Potifar yang senantiasa menggoda. Tetapi dengan kesungguhan hati bahwa
kepercayaan itu mahal harganya, dan kasih yang besar kepada Tuhan dan sesama,
membuat kita akan terluput dari godaan untuk melakukan dosa. Niscaya kita akan
selalu menjadi orang yang disertai Tuhan.
Penyertaan
Tuhan jauh lebih berharga dan lebih besar dari berkat materi. Pertanyaannya,
sudahkah kita menjadi orang yang disertai
Tuhan?
Lopait,
18 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar