Selasa, 30 Juni 2026

Trik Yusuf dan Pemenuhan Janji Yehuda - Kejadian 44

 

Kejadian 44


Yusuf melakukan suatu trik untuk bisa mengatur bagaimana saudara-saudaranya itu  bisa tetap terhubung dengannya. Sebuah trik seakan ingin menjebak kakak-kakaknya, tapi niatannya bukan karena benci atau tidak suka, melainkan ingin memberikan sebuah pembelajaran yang baik bagi mereka.

Yakni dengan memberikan piala Yusuf saat jamuan makan siang bersama di kediamannya ada di mulut karung adiknya Benyamin. Juga semua uang-uang hasil pembayaran mereka tetap ada di mulut karung masing-masing. Sehingga mereka tidak perlu bayar atas semua ketidaktahuannya itu.

Atas perintah Yusuf setelah beberapa saat jauhnya mereka berjalan, kepala penjaga rumahnya segera menyusul mereka. Mengeluarkan sebuah pertanyaan trik, mengapa engkau membalas kebaikan dengan berbuat jahat?

Pada saat itu, Yehuda lebih banyak berbicara dengan utusan Yusuf itu. Dia menunjukkan tanggungjawab yang besar saat sebelum pergi dari Papanya, Yakub. Menyatakan, “Masakan kami mencuri emas dan perak dari rumah tuanmu?” Juga menyatakan kepada siapa piala itu didapat, biarlah ia mati, dan kami akan jadi budak kalian.

Utusan Yusuf tidak menginginkan kematian mereka, hanya berkata kepada siapa piala itu dapat, dia lah yang jadi budak tuanku. Akhirnya dilakukan pemeriksaan, dan benar terdapat pada Benyamin, adiknya yang bungsu. Mereka kembali ke kota, dan bertemu Yusuf. Yehuda langsung menyampaikan pembelaannya tentang Benyamin adiknya. Bagaimana mereka tidak bisa berkutik lagi, Allah telah menunjukkan kesalahan masa lalu kami, dan harus menanggung nya sekarang.  Kami hanya bisa menjadi hamba budak?

Yusuf menolak usul Yehuda, tidak, cukup bagi siapa yang kedapatan piala itu, dialah yang jadi budakku. Yehuda kembali lagi tampil dan menyatakan bagaimana perjalanan mereka sebelum sampai ke Mesir. Bagaimana atas perintah tuanku, untuk harus membawa Benyamin serta, kalau tidak jangan datang ke Mesir? Akhirnya aku, menjamin keselamatan Benyamin, bahwa dia harus kembali, biarkan aku menanggung resikonya. Ayahku setuju dan mengambil resiko terberat itu. Aku tidak ingin ayahku turun kedunia orang mati. Biarlah aku yang ditahan dan jadi budak. Masakan aku pulang dan tidak membawa adikku?

Apa pelajaran dari perikop ini kepada kita? Pertama, saat berani berjanji, harus berani juga untuk menepati tiap-tiap perkataan kita itu. Jangan menjadi orang yang ingkar janji. Apapun resiko yang sudah kita sampaikan, dan seberapa pun harganya demi keselamatan orang lain, kita tetap ambil resiko itu dan menjadi orang yang tepat janji. Seperti Yehuda, yang berani ambil resiko dan terus melakukan pembelaan kepada adiknya. Dia tidak diam, dan tidak menginginkan kecelakaan ayahnya, dan biarlah dia sendiri yang menanggung semuanya itu sesuai dengan perkataannya sebelumnya.  

Kedua, mari menuntaskan pekerjaan dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepada kita. Sebab itu juga menunjukkan siapa karakter kita yang sebenarnya. Sekecil apapun pekerjaan dan tanggungjawab yang kita emban, ketika kita sudah menyelesaikan, maka kita menjadi orang-orang yang bernilai baik di mata Tuhan. Mungkin ada resiko, tetapi keberanian melangkah dan tidak memandang rendah pekerjaan itu, sesungguhnya kita sudah menyelesaikan setengah dari tanggungjawab itu. Sudahkah kita demikian?

Lopait, 24 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trik Yusuf dan Pemenuhan Janji Yehuda - Kejadian 44

  Kejadian 44 Yusuf melakukan suatu trik untuk bisa mengatur bagaimana saudara-saudaranya itu   bisa tetap terhubung dengannya. Sebuah tri...